Mengejar Rida Allah, Bukan Validasi Manusia
Kusnandar Putra
Stop mengharapkan validasi orang lain!
Sangat melelahkan jika setiap langkah hidup yang kita ambil selalu didasari oleh keinginan untuk dipuji dan diakui oleh manusia.
Bahaya jika hidup hanya berfokus mencari validasi. Ketika pujian datang kita melayang, namun saat celaan hinggap kita langsung kalah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan membiarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276)
Imam an-Nawawi pernah berkata, “Orang yang tidak menghendaki selain (rida) Allah Ta’ala, dan tidak menempuh selain jalan agama Islam, serta tidak melakukan ibadah kecuali dengan apa yang sesuai dengan syariat (yang dibawa oleh) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak diragukan lagi bahwa siapa saja yang memiliki sifat ini, maka niscaya kemanisan iman akan masuk ke dalam hatinya sehingga dia bisa merasakan kemanisan dan kelezatan iman tersebut (secara nyata)"
Memuaskan ekspektasi semua orang adalah
hal yang mustahil. Sangat meletihkan jika kita harus sibuk mencari validasi dari 280 juta warga Indonesia.
Setiap kepala memiliki standar, penilaian, dan selera yang berbeda-beda dan belum tentu searah dengan rida Allah.
Dorongan untuk mencari pengakuan instan lewat angka, pujian, dan popularitas adalah kebodohan.
Tanpa sadar, banyak dari kita yang rela mengorbankan prinsip kebenaran hanya demi disukai oleh netizen atau lingkungan sekitar.
Padahal, fokus utama seorang hamba sejatinya sangat sederhana, cukup mencari rida Allah.
Ketika fokus hidup kita adalah rida Sang Pencipta, hati akan terasa tenang, dan kita tidak lagi diperbudak oleh penilaian manusia.
Kehidupan di dunia ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya demi mengejar tepuk tangan manusia yang bersifat sementara.
Barokallohu fiikum.
Gowa, 13 September 2026


Comments
Post a Comment