Wukuf dan Harapan Guru



Kusnandar Putra


Hari ini, jutaan kaum muslimin bergerak menuju Padang Arafah. Secara bertahap dalam tiga trip, yaitu pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi pada hari ini. 


Dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit, mereka datang memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menjalani puncak ibadah haji, wukuf di Arafah.


Sebanyak 221 ribu jamaah Indonesia tahun 2026 juga berada dalam lautan manusia itu. Ke Arafah. Di tempat itulah hati manusia sering kali luluh. Tangisan pecah. Doa-doa yang dipanjatkan. Dan dosa-dosa diingat kembali.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 


الحج عرفة


“Haji adalah Arafah.”

(HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)


Maksud hadits ini adalah bahwa wukuf di Arafah merupakan tiang haji dan rukunnya yang terpenting. Barang siapa yang meninggalkannya, maka hajinya batal, dan barangsiapa melakukannya, maka telah aman hajinya. (al Fathur Rabbani, 23)


Padang Arafah juga menyimpan sejarah yang sangat agung dalam perjalanan Islam. Di tempat inilah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan Haji Wada', haji terakhir beliau bersama lebih dari seratus ribu sahabat.


Di hadapan lautan manusia itu, Nabi menyampaikan khutbah yang menjadi pelajaran besar bagi umat hingga hari ini. Beliau berbicara tentang kemuliaan manusia, amanah, larangan berbuat zalim, pentingnya menjaga hak sesama, dan persaudaraan kaum muslimin.


Khutbah itu terasa begitu menyentuh karena disampaikan dalam suasana perpisahan. Seakan Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam sedang menitipkan pesan terakhir kepada umatnya.


Pada saat itulah turunnya firman Allah Ta'ala, 


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا


“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-ku kepadamu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

(Surah Al-Ma'idah: 3)


Padang Arafah menghadirkan visual manusia berdiri dengan pakaian yang hampir sama, tanpa menunjukkan status sosialnya. Tidak ada ruang untuk merasa puas. Semua merasa kecil di hadapan Allah.


Di sana, banyak orang menangis menyadari betapa banyak dosa yang telah dilakukan. Arafah ibarat menjadi gambaran kecil tentang hari ketika seluruh kelak manusia terlintas di hadapan Allah pada Yaumul Mahsyar.


Oleh karena itu, hari Arafah selalu menjadi momentum untuk kembali memperbaiki diri. Memperbanyak istighfar.  

Berdoa. Dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.


Bagi yang belum berhaji, tetap maksimalkan ibadah, yaitu dengan berpuasa Arafah, takbir dan zikir, berdoa kepada Allah, berqurban, dan taubat. 


Dan bagi para guru, sebagaimana jamaah haji datang membawa harapan kepada Allah, para guru senantiasa berdoa kepada Allah agar generasi yang mereka didik menjadi orang saleh dan salehah. 


Gowa, 9 Zulhijah 1447 H/25 Mei 2026

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Ke Mana Perginya Anak Pesantren?

KESOMBONGAN PEROKOK SAAT BERKENDARA