Guru Nongkrong

 Guru Nongkrong


Oleh: Kusnandar Putra


Di banyak sudut kota dan kabupaten, kita dengan mudah menemukan pemandangan yang sebenarnya terasa janggal, tetapi lama-lama dianggap biasa: sekelompok guru nongkrong berjam-jam di kafe, warkop, atau sudut-sudut keramaian, sementara ceramahnya jauh dari dunia pendidikan. Yang dibicarakan bukan tentang strategi mengajar, perkembangan siswa, atau inovasi pembelajaran, melainkan gosip, politik praktis, candaan kosong, bahkan keluhan tanpa solusi. Fenomena ini bukan soal nongkrongnya, tapi soal apa yang ditinggalkan dan apa yang dibicarakan.


Saya berpandangan tegas: guru yang menjadikan nongkrong tidak jelas sebagai kebiasaan, lalu menghabiskan energi pada ceramah yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan, sedang menggerogoti martabat profesinya sendiri. Sikap seperti ini tidak bisa dianggap remeh, karena dampaknya tidak berhenti pada individu, melainkan menjalar ke kualitas pendidikan dan kepercayaan masyarakat terhadap guru.


Secara faktual, kualitas pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Berbagai laporan internasional dan nasional kerap menunjukkan bahwa mutu pembelajaran, literasi, dan numerasi siswa belum sesuai harapan. Di tingkat sekolah, banyak masalah klasik yang terus berulang: pembelajaran monoton, minim inovasi, rendahnya budaya baca, dan lemahnya refleksi profesional guru. Di tengah kondisi seperti ini, waktu dan energi guru justru menjadi aset paling berharga. Ketika aset itu habis untuk aktivitas yang tidak produktif secara intelektual, maka yang rugi bukan hanya sekolah, tetapi generasi peserta didik.


Masalahnya bukan pada budaya bersosialisasi. Nongkrong, minum kopi, atau bercengkerama adalah bagian dari kehidupan sosial yang wajar. Namun, menjadi persoalan serius ketika seorang guru lebih fasih membahas isu-isu remeh dibandingkan membahas perkembangan kurikulum, karakter siswa, atau metode mengajar. Lebih ironis lagi, ketika keluhan tentang siswa “malas” dan “tidak sopan” justru muncul dari guru yang enggan belajar, enggan membaca, dan enggan memperbaiki diri.


Ada beberapa penyebab utama mengapa fenomena ini terjadi. Pertama, lemahnya kesadaran profesional. Tidak semua guru benar-benar memaknai profesinya sebagai panggilan intelektual dan moral. Bagi sebagian orang, guru cukup memahami rutinitas pekerjaan: datang, mengajar, pulang, selesai. Ketika profesi dipersempit menjadi rutinitas administratif, maka diskusi-diskusi yang bernilai akademik terasa melelahkan, sementara percakapan ringan menjadi lega.


Kedua, rendahnya budaya literasi di kalangan pendidik itu sendiri. Sulit berharap dialog guru akan berbobot jika membaca buku, artikel, atau jurnal pendidikan saja jarang dilakukan. Nongkrong tanpa literasi ibarat berkumpul tanpa arah. Akhirnya, yang mengisi ruang percakapan hanyalah gosip dan keluhan yang berputar di tempat.


Ketiga, lingkungan yang permisif. Tidak ada dorongan sistemik di sekolah atau komunitas guru untuk menjadikan diskusi profesional sebagai budaya. Rapat sering bersifat administratif, bukan reflektif. Komunitas guru ada, tetapi sepi gagasan. Dalam situasi seperti ini, nongkrong menjadi ruang pengungsi yang tidak terkendali.


Sebagai pengamat dan praktisi pendidikan, saya pernah menjumpai dua tipe guru dalam satu lingkungan yang sama. Tipe pertama, seusai jam mengajar, ia nongkrong. Tetapi di meja itu terdapat laptop, buku catatan, dan diskusi tentang strategi mengajar, kesulitan siswa, atau ide media pembelajaran. Tipe kedua, nongkrong dengan durasi yang sama, tetapi tanpa satu pun topik pendidikan. Anehnya, yang paling sering mengeluh tentang rendahnya kualitas siswa hanya tipe kedua.


Perbedaan keduanya bukan soal fasilitas atau gaji, melainkan soal pola pikir profesional. Guru yang baik menjadikan setiap ruang sosial sebagai kesempatan belajar. Guru yang abai menjadikan ruang sosial sebagai tempat melupakan tanggung jawab intelektualnya.


Solusi dari persoalan ini tidak bisa sekadar berupa imbauan moral. Pertama, perlunya penguatan budaya diskusi profesional di sekolah. Kepala sekolah dan pengelola pendidikan harus mendorong dialog ruang-ruang yang sehat, reflektif, dan bermakna. Bukan sekadar rapat laporan, tetapi diskusi praktik baik dan masalah pembelajaran nyata.


Kedua, guru perlu membangun kesadaran pribadi bahwa waktu adalah amanah. Tidak semua waktu harus formal, tetapi setiap waktu bisa bernilai jika diarahkan. Nongkrong bisa tetap ada, tetapi topiknya perlu naik kelas. Pendidikan, karakter siswa, tantangan mengajar, dan literasi digital seharusnya menjadi bahan dialog yang wajar bagi seorang pendidik.


Ketiga, komunitas guru harus dihidupkan sebagai ruang tumbuh, bukan sekadar kelompok pesan instan yang pasif. Diskusi buku, berbagi artikel, atau refleksi mengajar jauh lebih berdampak daripada pertemuan fisik tanpa arah.


Pada akhirnya, masyarakat menaruh harapan besar kepada guru bukan karena gelarnya, tetapi karena kesamaannya. Guru adalah sosok yang dinilai, ditiru, dan dipercaya. Ketika guru sendiri kehilangan arah dalam memaknai profesinya, maka pendidikan akan berjalan tanpa kompas.


Tulisan ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan. Nongkrong bukan dosa, tetapi mengabaikan tanggung jawab intelektual adalah kelalaian. Jika guru ingin dihormati sebagai profesi yang buruk, maka kebiasaan sehari-hari—termasuk percakapan ringan—harus mencerminkan kepedulian terhadap pendidikan. Perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi sering kali berawal dari meja kopi dan topik pembicaraan di atasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Ke Mana Perginya Anak Pesantren?

KESOMBONGAN PEROKOK SAAT BERKENDARA