Ketika Orang Tua Abai pada Keshalihan Anak
Oleh: Kusnandar Putra
Di banyak rumah, kita menyaksikan ironi yang jarang disadari. Orang tua begitu serius memikirkan masa depan anak dalam bidang akademik, keterampilan, dan pekerjaan, tetapi hampir tidak bisa mencapai satu hal mendasar: keshalihan. Anak dipastikan tidak tertinggal pelajaran di sekolah, diberi gawai canggih, dan dimasukkan ke berbagai les, namun jarang ditanya apakah ia mengenal Tuhannya, memahami adab, dan memiliki kompas moral yang jelas. Fenomena ini bukan persoalan kecil, sebab dari rumah tangga lahirlah wajah masyarakat di masa depan.
Saya berpandangan tegas: orang tua yang tidak peduli pada keshalihan anak sedang menanamkan nilai krisis yang dampaknya akan dirasakan secara sosial, bahkan nasional. Pendidikan karakter dan spiritual bukanlah pelengkap setelah terpenuhinya kebutuhan materi, melainkan landasan utama yang menentukan arah hidup seorang anak. Ketika fondasi ini rapuh, keberhasilan akademik justru bisa menjadi bumerang.
Secara faktual, berbagai persoalan sosial yang melibatkan anak dan remaja semakin sering kita dengar: kekerasan, perundungan, pakar gawai, kecanduan pornografi, hingga perilaku konsumtif yang berlebihan. Banyak penelitian pendidikan dan laporan lembaga sosial menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran paling dominan dalam pembentukan karakter anak. Sekolah dan lingkungan hanya memperkuat atau meningkatkan nilai yang sudah ditanamkan di rumah. Artinya, ketika keshalihan tidak menjadi perhatian orang tua, anak tumbuh tanpa panduan nilai yang kokoh.
Masalah utama dari fenomena ini terletak pada cara memandang orang tua terhadap makna keberhasilan. Kesuksesan sering didefinisikan secara sempit: nilai rapor tinggi, masuk sekolah favorit, atau kelak memiliki pekerjaan mapan. Sementara itu, keshalihan dianggap urusan pribadi anak yang bisa menyusul sendiri ketika sudah dewasa. Cara memandang ini keliru, karena nilai tidak tumbuh secara otomatis. Keshalihan adalah hasil dari pembiasaan, keteladanan, dan pendampingan jangka panjang.
Penyebab lainnya adalah tekanan ekonomi dan gaya hidup modern. Banyak orang tua yang bekerja keras dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan keluarga. Niatnya mulia, tetapi waktu bersama anak semakin menyempit. Dalam kondisi lelah, gawai sering dijadikan “pengasuh” pengganti. Anak dibiarkan larut dalam layar tanpa bimbingan nilai. Perlahan-lahan, orang tua kehilangan peran sebagai pendidik utama, digantikan oleh algoritma dan konten yang tidak selalu sejalan dengan nilai moral.
Sebagai pengamat pendidikan dan kehidupan keluarga, saya sering menampilkan contoh yang kontras. Ada orang tua yang rajin mengantar anak ke berbagai kursus, tetapi tidak pernah memastikan dia shalat tepat waktu atau berbicara dengan sopan. Sebaliknya, ada keluarga sederhana yang mungkin tidak mampu menyediakan fasilitas mewah, tetapi konsisten mengajarkan adab, ibadah, dan tanggung jawab. Dalam jangka panjang, perbedaan ini sangat terasa pada sikap dan keputusan hidup anak-anak mereka.
Keshalihan bukan berarti menjadikan anak sempurna atau bebas dari kesalahan. Keshalihan adalah kemampuan membedakan benar dan salah, memiliki rasa takut berbuat buruk, dan keberanian bertanggung jawab atas pilihan hidup. Anak yang shalih bukanlah anak yang selalu patuh secara mekanis, melainkan anak yang memiliki kesadaran moral. Kesadaran inilah yang menjadi benteng ketika orang tua tidak lagi berada di sisinya.
Solusi atas permasalahan ini harus dimulai dari kesadaran orang tua sendiri. Pertama, orang tua perlu mengembalikan makna pendidikan pada hakikatnya: membentuk manusia, bukan sekadar mencetak prestasi. Pendidikan agama dan akhlak tidak harus rumit. Ia bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, seperti shalat berjamaah, membaca kitab suci bersama, dan mencontohkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, keteladanan harus didahulukan daripada nasihat. Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar. Sulit berharap anak peduli pada nilai jika orang tua sendiri abai pada adab, ibadah, dan etika sosial. Ketika orang tua menjadikan keshalihan sebagai gaya hidup, anak akan menyerapnya secara alami.
Ketiga, orang tua perlu hadir secara emosional. Kehadiran tidak selalu berarti waktu yang lama, tetapi kualitas interaksi. Mendengarkan cerita anak, berdialog tentang pilihan hidup, dan membimbing dengan empati jauh lebih berpengaruh daripada sekedar memberi perintah. Dalam ruang dialog inilah nilai yang ditanamkan dengan penuh kesadaran.
Keempat, sinergi dengan sekolah dan lingkungan perlu diperkuat. Orang tua tidak bisa berjalan sendiri, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya menyerahkan pendidikan kepada sekolah. Kerja sama yang sehat akan memperkuat pesan moral yang diterima anak dari berbagai arah.
Pada akhirnya, keshalihan anak adalah cermin dari kepedulian orang tua. Masyarakat yang baik tidak lahir dari rumah tangga yang abai. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan mengajak bercermin. Anak-anak kita bukan hanya calon pekerja dan warga negara, tetapi juga pewaris nilai dan moral bangsa. Jika orang tua mau kembali menempatkan keshalihan sebagai prioritas, maka kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab dan bertanggung jawab.
Comments
Post a Comment