Berpikir Sebelum Melangkah
Kusnandar Putra
Tahu tidak, kenapa dulu mendidik kita secara tradisional mengatur di kelas satu kita pakai pensil, tapi masuk kelas tiga kita mulai ditantang memakai pulpen.
Ini bukan sekedar urusan alat tulis. Ini adalah pralambang kedewasaan.
Anak kelas satu dianggap masih dalam fase mencoba-coba. Salah? Ya, tentu saja. Namun, anak kelas tiga dianggap sudah mulai dewasa secara kognitif. Mereka mengajarkan untuk berpikir sebelum bertindak karena konsekuensi dari sebuah pulpen inti yang jauh lebih permanen daripada pensil.
Sayangnya, dalam kehidupan nyata, banyak dari kita yang sudah dewasa secara usia namun masih bermental pensil.
Kita bertindak impulsif, berucap tanpa saring, atau menyebarkan berita tanpa verifikasi, seolah-olah semua kesalahan itu bisa dihapus begitu saja dengan kata maaf.
Padahal, dunia orang dewasa adalah dunia pulpen. Setiap tindakan kita meninggalkan jejak tinta yang permanen. Ada jejak digital.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sejak empat belas abad silam telah memberikan peringatan tentang pentingnya ketenangan dan berpikir sebelum bertindak.
Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa ketenangan dan sifat hati-hati itu datangnya dari Allah subhanahu wa ta'ala, sedangkan ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan.
Pernahkah kita membayangkan betapa beratnya konsekuensi sebuah lisan yang tidak terjaga?
Secara teori, kemampuan untuk menahan reaksi spontan ini disebut dengan regulasi diri atau kontrol diri. Ini adalah bagian dari kecerdasan emosional yang sangat krusial di abad ke-21.
Orang yang sukses bukanlah mereka yang paling cepat bereaksi, melainkan mereka yang paling bijak dalam merespons.
Menjadi dewasa berarti memahami bahwa hidup tidak lagi menyediakan karet penghapus yang bisa menghilangkan semuanya tanpa bekas.
Kedewasaan adalah tentang ketelitian dalam memilih diksi, kebijakan dalam mengambil keputusan, dan kebeningan hati dalam berinteraksi.
Mari kita belajar dari filosofi pulpen di kelas tiga SD tersebut. Berpikir dulu, baru menulis. Berpikir dulu, baru mengucapkannya. Berpikir dulu, baru bertindak.
Karena pada akhirnya, seluruh catatan amal kita di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala adalah catatan yang ditulis dengan tinta yang tidak akan pernah luntur.
Barokallohu fiikum.
Makassar, 19 Agustus 2026


Comments
Post a Comment