Bicara di Ruang Masyarakat tanpa Pembodohan

 

Kusnandar Putra


Sering kali kita berada dalam dialog di masyarakat, yang mana orang tersebut berbicara tanpa ilmu. 


Bahas agama tidak ada dalil. Bahas politik, tidak paham. Bahas fenomena, asal bunyi. 


Dalam dunia akademik, perasaan bukanlah dalil, dan asumsi bukanlah data. Kita sering terjebak dalam jebakan kognitif yang menganggap suara keras adalah kebenaran, padahal tanpa pondasi ilmu, narasi tersebut hanyalah kebisingan yang menyesatkan.


Fenomena ini mengingatkan kita pada peringatan keras yang Allah subhanahu wa ta'ala sampaikan dalam Al-Quran Surah Al-Isra ayat 36. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya, Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.


Ayat ini bukan sekadar nasehat, melainkan sebuah standar baku dialog. Bayangkan jika para perawi hadis dahulu bekerja tanpa data dan verifikasi yang ketat. Mungkin kita tidak akan pernah mengenal keshahihan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.


 Imam Bukhari rahimahullah, misalnya, harus menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk memverifikasi satu nama dalam rantai sanad. Inilah akar dari tradisi data driven yang seharusnya mendarah daging dalam nadi dialog masa kini.


Tahu, tidak, apa yang terjadi jika orang bicara tanpa ilmu? 


Dia sedang melakukan pembodohan publik yang dibungkus dengan jubah intelektualitas.


Sebagai pembicara di ruang masyarakat, kita memikul amanah berat untuk menjaga kejernihan berpikir umat.


 Ada tiga langkah praktis yang bisa kita terapkan agar tidak terjebak dalam pembodohan publik:


1. Kedepankan Tradisi Tabayyun dan Verifikasi.


Jangan pernah mengutip sebuah fenomena pendidikan hanya karena ia viral. Gunakan data yang valid. 


2. Integrasikan Ilmu dengan Data Empiris.


3. Miliki Keberanian untuk Mengatakan Tidak Tahu.


Haitsam bin Jamil rahimahullah berkata:


شَهِدْتُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ سُئِلَ عَنْ ثَمَانٍ وَأَرْبَعِينَ مَسْأَلَةً فَقَالَ فِي اثْنَتَيْنِ وَثَلَاثِينَ مِنْهَ  لَا أَدْرِي


"Aku menyaksikan Malik bin Anas rahimahullah pernah ditanyakan 48 pertanyaan, maka 32 pertanyaan dijawab dengan jawaban, "Aku tidak tahu!". (At Tamhid I:731. Atsar ini berderajat shahih


Ingat siapa mereka yang kita hadapi? Mereka adalah mahasiswa, guru, dan masyarakat yang menaruh kepercayaan pada gelar serta jabatan kita. 


Jika kita berbicara tanpa basis ilmu yang kokoh, kita sebenarnya sedang meruntuhkan peradaban dari dalam.


Mari kita kembalikan marwah diskusi ke meja-meja penuh literatur, hasil riset, dan pengkajian mendalam terhadap wahyu serta alam semesta. 


Diskusi yang sehat adalah diskusi yang mencerahkan hati dan menenangkan akal, bukan yang hanya memuaskan ego sektoral atau mengejar popularitas semu.


Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menjaga lisan dan pena kita agar hanya menyampaikan kebenaran yang bersumber dari ilmu yang bermanfaat. 


Mari perbaiki niat dalam setiap diskusi dan tulisan kita, agar ia tidak hanya menjadi tumpukan kertas di perpustakaan, melainkan menjadi amal jariyah yang menerangi jalan bagi generasi mendatang.


Barokallohu fiikum. 



Makassar, 20 Agustus 2026

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Ke Mana Perginya Anak Pesantren?

KESOMBONGAN PEROKOK SAAT BERKENDARA