Ruang Guru





Kusnandar Putra


Kadang-kadang ruang guru dijadikan diskusi bisnis atau ajang komentator kehidupan orang lain selain "arsitek peradaban". 


Kita sibuk dengan hal-hal yang tidak menyentuh akar pendidikan, padahal di tangan kitalah wajah masa depan itu sedang diukir.


Ingatkah kita bagaimana Rasulullah ﷺ membina para sahabat di Suffah atau di rumah Arqam bin Abi Arqam? Setiap detik pertemuan adalah transfer nilai. Tidak ada kata-kata yang sia-sia.


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda, 


“Di antara tanda baik keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).


Bayangkan jika spirit hadis ini dibawa ke ruang guru. Jika setiap diskusi di sela jam mengajar adalah upaya tashfiyah (pemurnian) niat atau tarbiyah (pendidikan) diri, betapa berkahnya sekolah kita. 


Para sahabat Nabi, seperti Abu Hurairah atau Ibnu Abbas, tidak pernah berkumpul kecuali untuk saling bercerita hal hal kecintaan kepada Allah. 


Lalu, di posisi kita sebagai "pewaris para nabi"?


Secara teori pendidikan modern, kita mengenal konsep Professional Learning Community (PLC). Intinya komunitas guru harus saling belajar satu sama lain. Dalam kompetensi 4C (Komunikasi, Kolaborasi, Berpikir Kritis, Kreativitas), kolaborasi antar guru adalah kunci.


Namun sayangnya, energi kita seringkali habis untuk "pernak-pernik" di luar. Kita sibuk mengeluhkan aplikasi yang error, memikirkan sibuk administrasi yang menumpuk, tutorial akhir pekan yang menghabiskan waktu, atau terjebak dalam politik kantor yang melelahkan.


 Akhirnya esensi pendidikan, yakni sentuhan hati ke hati dengan murid terlupakan.


Tahu tidak, apa dampaknya? Saat guru biasa menyatukan “ruh” pendidikan, maka yang masuk ke kelas adalah sosok yang lelah, sosok yang bukan penuh inspirasi.


Mari kita mengubah atmosfer ruang guru kita menjadi lebih "bergizi". Tidak perlu kaku, tetap bisa santai namun tetap berisi.


Pada akhirnya, ini bukan sekedar urusan profesionalitas, tapi urusan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Pekerjaan guru adalah ladang pahala yang mengalir jika diniatkan dengan benar. Mari kita perbaiki niat. Jangan biarkan meja guru hanya menjadi tempat pertukaran keluh kesah duniawi yang fana.

Jadikan meja guru kita sebagai tempat di mana strategi-strategi untuk menyelamatkan generasi didiskusikan dengan penuh cinta dan harap kepada Allah Subhanahu wataala. 


Barokallohu fiikum.




Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Ke Mana Perginya Anak Pesantren?

KESOMBONGAN PEROKOK SAAT BERKENDARA