Posts

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru

Image
 Penyusun: Kusnandar Putra Pada November 2024, saya berkesempatan bertemu kembali dengan Pak Anis, dosen saya semasa kuliah di jurusan Pendidikan Fisika, Unismuh Makassar. Yang juga merupakan guru Fisika di SMAN 9 Makassar.  Kami bertemu secara tak sengaja di Masjid Al-Ikhlas Bakda Dzuhur, Perumahan Griya Fajar Mas, Makassar—sebuah pertemuan yang terjadi setelah hampir 13 tahun lamanya berpisah. Dalam pertemuan itu, kami terlibat dalam perbincangan panjang mengenai dunia pendidikan. Beliau bercerita banyak, membagikan pengalaman serta motivasi yang juga ia dapatkan dari sahabatnya, tentang pentingnya peran seorang guru—terutama di jenjang SMP—sebagai fondasi utama dalam menanamkan adab dan karakter kepada siswa.  Menurut beliau, mendidik di tingkat SMP memiliki tantangan yang khas, namun justru di sanalah nilai-nilai dasar bisa tertanam kuat. Hal ini berbeda dengan dunia perguruan tinggi, di mana tantangan seorang dosen sering kali lebih berat karena mahasiswa telah membe...

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Image
  Penyusun: Kusnandar Putra Ahad, 20 April 2025, masyarakat Pekalongan dihebohkan dengan kemunculan sumber air yang diyakini membawa keberkahan. Warga, bahkan dari luar desa, datang berduyun-duyun untuk menimba air yang dianggap sebagai berkah.  Dalam waktu singkat, fenomena ini berubah menjadi ritual spontan. Dalam beberapa jam, air itu telah berubah status: dari "biasa" menjadi "berkah", dari "air" menjadi "harapan Namun, dalam tempo yang tak lama, aparat dan petugas teknis PDAM memastikan bahwa sumber air tersebut hanyalah akibat dari pipa yang bocor. Seketika, euforia publik surut, dan lokasi yang semula ramai kembali sepi. Jangan tertawakan peristiwa ini. Tapi, lahirkan kesedihan yang mendalam tentang adanya akidah yang tercoreng.  Di sinilah muncul satu pertanyaan sosiologis: Mengapa masyarakat begitu mudah menyematkan label “berkah” pada fenomena yang belum terverifikasi secara ilmiah maupun syar’i? Dalam dunia ilmu pengetahuan, kita menyebutny...

Kapal Dibuat untuk Menghadapi Ombak

Image
Oleh: Kusnandar Putra Perdana Mentri Pakistan, Benazir Bhutto pernah mengatakan, "The most beautiful moment of a ship is when it is moored at the dock, it is sobeautiful bathed in light. But ships are never made to be moored at the dock, they are made to beat the waves, splitting the ocean." Yang artinya,  "Momen terindah sebuah kapal adalah saat kapal itu ditambatkan di dermaga, begitu indahnya saat bermandikan cahaya. Namun, kapal tidak pernah dibuat untuk ditambatkan di dermaga, melainkan untuk mengalahkan ombak dan membelah lautan." Dalam konteks pendidikan, guru yang menawan hakikatnya bukan hanya sekedar rupawan secara zhohir. Tapi guru yang sesungguhnya yang mampu hadir menghadapi segala realitas dalam dunia pendidikan. Dia mampu memberikan sumbangsih di tengah gelombang persoalan-persoalan dalam dunia pendidikan. Hari ini banyak sekali tantangan guru. Katakanlah ujian dalam mencerdaskan siswa. Yang tadinya dia tidak paham tentang materi, akhirnya dia paham. ...

Tiga Kali Mengulang Bacaan

Oleh: Kusnandar Putra Salah seorang tokoh pernah mengatakan bahwa membaca buku tiga kali pengulangan itu lebih baik daripada membaca tiga jenis buku yang berbeda.  Ini menjadi renungan, apapun profesi kita, baik sebagai seorang pendidik, sebagai seorang pekerja yang juga senang membaca buku, kadangkala apa yang kita baca, itu tidak bertahan lama. Mungkin sekitar satu dua hari masih bisa diingat, tapi ketika sudah melewati hari tersebut ternyata kandungan buku itu hilang.  Apa persoalannya?  Apa yang menjadi akar persoalan?  Bisa jadi hal itu disebabkan oleh pola kita di dalam membaca yang kurang baik. Ada baiknya kita membaca satu buku dengan cara 3 kali pengulangan dan itu biasanya jauh lebih berdampak kepada kehidupan. Kita teringat dengan ulama, bagaimana antusias mereka yang luar biasa di dalam membaca. Al-Muzani (murid Imam asy-Syafi’i) berkata, “Saya membaca kitab ar-Risalah (karya Imam asy-Syafi’i) 500 kali. Dan setiap kali saya selesai membacanya pasti saya m...

140 ribu Siswa Putus Sekolah di Sulsel

  Oleh: Kusnandar Putra Fakta cukup mengejutkan. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel Iqbal Djamaluddin (2024) sempat menyatakan, "Sekitar 140 ribu orang jumlah anak putus atau tidak sekolah di Sulawesi Selatan (Sulsel) berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Dari jumlah itu, sebagian di antaranya banyak berhenti di jenjang SD. Menurut Iqbal, dari total 140 ribu itu, terdapat berbagai klasifikasi terkait anak yang tidak melanjutkan pendidikan. Mulai anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan, baik SD, SMP, maupun SMA; sempat bersekolah lalu berhenti di tengah jalan; hingga menyelesaikan satu jenjang, tetapi tidak lanjut ke jenjang berikutnya. Kata beliau. Saya mencoba lihat data total siswa yang aktif di Sulsel, kurang lebih 1,7 juta di jenjang SD, SMP, dan SMA. Berarti kalau kita ambil presentase, putus sekolah di angka 8%. Ya Allah, sangat banyak. Bisa kita bayangkan, makna angka ini adalah jika ada 100 siswa yang tamat/...

Lagi-lagi Persoalan Membaca, Ada Apa?

Oleh: Kusnandar Putra Hasil penelitian PISA terbaru menunjukkan bahwa mayoritas generasi muda Indonesia mengalami "buta huruf" dalam arti fungsional, bukan literal.  Mereka mampu membaca, namun memiliki kemampuan yang sangat terbatas dalam memahami, menganalisis, dan mengolah informasi dari teks bacaan untuk membentuk pandangan atau visi pribadi.  Dengan kata lain, tingkat analisis dan sintesis mereka tergolong rendah. Ini menjadi fenomena yang cukup sedih dan bahaya jika tidak ada jalan keluar.  Bayangkan saja, kemampuan membaca literasi mahasiswa tingkatan awal di Indonesia, itu sama dengan 3 SMP di negara maju. Sekali lagi, bukan membaca dalam konteks suku kata, tapi pada persoalan membaca sebagai suatu analisis informasi, dan menjadikan membaca sebagai jembatan mencapai visi misi kehidupan. Hal ini lalu menjadi tantangan kedepannya. Bayangkan saja, Prof. Bambang Gugiharto memberikan alarm bahwa daya-baca yang rendah itu berakibat fatal. Di antaranya yaitu:  (1) p...

Ragam Pandangan Hidup, Cuma 1 yang Bikin Bahagia

Image
 Oleh: Kusnandar Putra Baru-baru ini saya membaca beberapa perbedaan pandangan hidup orang-orang di dunia. Ada pandangan hidup yang mengganggap bahwa hidup itu untuk mendapat ketenangan batin. Ada pandangan hidup bahwa hidup itu yang penting terhindar dari rasa sakit.  Ada yang menganggap hidup itu yang penting damai.  Ada lagi hidup itu yang penting pengejaran kesenangan. Ada juga hidup itu yang penting aksi nyata. Inilah beberapa pandangan hidup yang tersebar di dunia.  Ketika itu, saya membaca 1 hal yang jauh lebih menarik. Yaitu yang lahir dari pandangan hidup Islam. Yang mana, Islam memandang hidup sebagai jalan *meraih rida Allah*. Ya, ini menarik, karena kalau kita hanya hidup seperti pandangan hidup mainstream seperti di atas tadi, sama saja kita bersandar kepada makhluk dalam berkehidupan. Memandang kebahagiaan itu dari situasional.  Beda dengan Islam. Kita berkehidupan untuk mencari rida Pencipta. Makanya, Allah azza wajalla berfirman, وَرِضْوَانٌ مِنَ...