Posts

Dilema Menghadirkan Islam di Ruang Publik

Image
  Kusnandar Putra Fenomena sosial yang cukup mengemuka di tengah umat adalah munculnya rasa sungkan atau dalam bahasa awam disebut “malu” untuk menampilkan identitas dan nilai Islam di ruang publik.  Bisa saja. . Sikap tersebut muncul dalam bentuk enggan menegur seseorang yang makan dengan tangan kiri atas nama sopan santun atau membiarkan ucapan-ucapan yang tidak pantas tanpa menegur persuasif.  Ada lagi seorang santri, di sekolah dia pakai kopiah, baju gamis, tapi ketika di mall sudah beda. Lepas kopiah, baju gaul.  Padahal, Islam sejatinya dihadirkan sebagai rahmat yang membawa kebaikan bagi seluruh aspek kehidupan manusia. Rasa minder ini juga tampak dalam ekspresi keberagamaan sehari-hari.  Tidak sedikit yang malu mengucapkan salam di ruang kerja yang heterogen, enggan meninggalkan kepentingan duniawi untuk menunaikan shalat tepat waktu, bahkan segan menyuarakan kebenaran karena takut dinilai sok suci. Takut diklaim "Ustadz".  Padahal, justru keberania...

Alhamdulillah, Bilqis Sudah Didapat

Image
  Oleh : Kusnandar Putra  Waktu masa SMP, tahun 2005, saya hampir saja "diculik" juga oleh orang yang tidak dikenal. Pasalnya, pulang dari suatu tempat, di Jalan Sungai Saddang Makassar, saya jalan kaki 250 m untuk menuju tempat ambil Pete-pete. Waktu sambil jalan, ada mobil sedan yang tiba tiba berhenti. Kaca mobil terbuka.  Ada 2 orang bapak. Mereka menawarkan,  "Mau saya antar pulang, Dek?" Dalam pikiran saya. Teringat pesan orang tua "Jangan ikut sama orang yang tidak dikenal." Akhirnya, saya tolak. Mereka pun pergi. Tapi rasa takut dan was-was itu masih tertinggal. Sampai rumah, baru setelah beberapa jam, saya sadar betapa besar perlindungan Allah saat itu. Saya teringat dengan kisah Bilqis yang mulai pekan lalu sejak berita awal itu muncul. Kehilangan. Kisah kehilangan yang membuat hati para orang tua bergetar. Apalagi emak-emak di Makassar. Ramai membahas. Hampir tiap buka FB, semua memberitakan Nak Bilqis.  Indikasinya Bilqis bisa jadi dibawa kabur...

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Image
Disusun: Kusnandar Putra, M.Sos. hafizhahullah Khutbah 1 إِنَ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى  إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُ...

Agar Hatimu Luas, Nak!

Image
Kusnandar Putra Tadi pagi, seorang siswa bertanya. Dengan wajah serius tapi penuh rasa ingin tahu, ia bertanya, “Ustadz, gimana caranya biar hati ini jadi luas?"  Dia bertanya agar tidak gampang marah, tidak iri sama orang, tidak benci, dan tidak dendam.  Saya bantu jawab,  "Pertama, jadikan hatimu seperti hati Rasulullah ﷺ." Rasulullah adalah manusia dengan hati paling lembut, paling sabar, dan paling lapang. Salah satu kisah yang paling menggugah adalah ketika beliau pergi ke Thaif. Di sana, beliau berharap dakwahnya diterima dengan baik. Tapi justru yang terjadi, beliau dihina, diejek, bahkan dilempari batu hingga darah mengalir di kaki beliau.  Dalam situasi itu, malaikat datang menawarkan bantuan, “Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan ku timpakan gunung kepada mereka!” Beliau justru berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu.”  Hati siapa yang bisa seluas itu? Dari peristiwa Thaif kita belajar, bahwa hati yang lapang bukan berarti tidak ...

GAGAL..GAGAL.. PILDUN

Image
Kekalahan Indonesia 1–0 dari Irak dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia kembali menjadi bahan perbincangan hangat. Di media sosial, berbagai komentar muncul seperti gelombang tak berujung. Fenomena ini sebetulnya bukan hanya tentang sepak bola, tapi tentang cara kita sebagai bangsa menghadapi kegagalan. Tentang bagaimana kita mudah menuntut orang lain menang, padahal kita sendiri tak pernah benar-benar berjuang untuk menjadi pemenang dalam hidup. Kita terlalu terbiasa menjadi komentator kehidupan. Ketika tim nasional gagal, kita merasa punya hak untuk menghakimi.  Dengarkan ini..  Jangan hanya menjadi penonton budiman yang pandai berkomentar, tapi miskin karya. Jangan merasa diri hebat karena bisa menilai, padahal belum pernah mencipta sesuatu yang layak dinilai. Itulah sebabnya, di dunia digital yang penuh opini ini, kita menemukan banyak pengkritik, tapi sedikit pekerja. Banyak yang memimpikan orang lain memang, sementara dia sendiri tidak pernah menang. Fatal.  Jadi s...

Eseritikat Guru

 Silakan download di sini Klik >> DISINI

Apa saja yang diperlukan saat masuk sekolah?

Image
  Kusnandar Putra 1. Siapkan pena dan buku dengan semangat. Imam Syafi’i kecil menulis pelajaran di tulang karena tak punya kertas. Ia tetap belajar dengan semangat, meski serba terbatas. Sementara hari ini, kadang ada siswa yang lupa bawa pulpen, buku, padahal semua tersedia. Hari pertama sekolah seharusnya jadi awal menata niat, belajar sungguh-sungguh.  2. Datang lebih awal, jangan terlambat. Imam Malik menunggu di depan rumah gurunya Nafi'. Hal seperti ini juga kerap dilakukan oleh Imam Abu Hanifah ketika hendak berguru kepada Hammad bin Abu Sulaiman, salah satu gurunya. Ia selalu menunggu Hammad di depan pintunya, tanpa merasa malu atau risih. Padahal ia adalah seorang pedagang kaya di Kufah. 3. Tak usah malu bertanya jika belum paham. Jabir bin Abdillah pernah menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemui Abdullah bin Unais demi memastikan satu hadits dari Rasulullah ﷺ. Ia menempuh ratusan kilometer, hanya untuk satu ilmu. Maka tak pantas kita merasa malu bertanya di kela...