Kusnandar Putra Pernahkan Anda menemukan teman yang punya gelar tapi pekerjaannya tidak sesuai? Banyak? Rasanya sayang sekali, bukan? Mereka menghabiskan waktu empat hingga lima tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2, 3 tahun untuk S3. Dia menguras tabungan orang tua, dan begadang demi skripsi, namun akhirnya gelar tersebut tidak berdampak. Mereka bekerja di bidang yang jauh dari jurusan kuliahnya, atau bahkan ilmu yang dipelajari menguap begitu saja. Muncul pertanyaan, "Untuk apa capek-capek kuliah kalau ujung-ujungnya tidak terpakai?" Jauh sebelum teori-teori pendidikan modern itu lahir, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan fondasi yang luar biasa tentang penempatan potensi manusia sesuai porsinya. Ingatkah kita bagaimana beliau menugaskan Zaid bin Thabit radhiyallahu 'anhu untuk mempelajari bahasa asing dan menulis wahyu karena kecerdasannya yang spesifik? Atau bagaimana beliau memberikan komando perang kepada Khalid bin...
Kusnandar Putra Bayangkan Anda sedang menggulir layar ponsel di pagi hari. Hanya butuh waktu kurang dari tiga detik bagi jempol kita untuk menekan tombol bagikan pada sebuah narasi kebencian. Algoritma media sosial seringkali memberi panggung pada kegaduhan, membuat kita membenci dan mencaci adalah bentuk ekspresi kebebasan. Apa mindset ulama terdahulu terhadap pemimpin? Mari kita menengok sejenak kisah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau adalah ulama yang pernah mengalami ujian luar biasa, dipenjara dan disiksa oleh penguasa pada masanya karena mempertahankan prinsip akidah. Namun, apakah beliau membalasnya dengan ajakan untuk membenci atau memprovokasi massa guna meruntuhkan wibawa pemimpin? Sama sekali tidak! Imam Ahmad bin Hanbal justru pernah berkata dengan kalimat yang sangat masyhur, "Seandainya aku memiliki satu doa yang mustajab (pasti dikabulkan), niscaya doa itu akan aku peruntukkan bagi penguasa." Mungkin kita bertanya,...
Comments
Post a Comment