Ada Guru Pelit

 

Kusnandar Putra


Pernahkah Anda melihat seorang guru yang pelit? 


Yang jika ada kelebihan rezekinya, dia tidak mau berbagi? 


Sungguh sebuah ironi. Kita, para pendidik. Namun, bagaimana mungkin kita bisa membangun peradaban yang dermawan jika di ruang kantor kita sendiri masih memelihara mentalitas pelit?


Mari kita menengok sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan mengenai amalan Islam yang paling baik.


 Beliau menjawab, "Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal."


Dahulu, para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan standar kedermawanan yang melampaui logika. Ingatkah kita pada kisah kaum Ansar yang radhiyallahu 'anhum? 


Allah subhanahu wa ta'ala memuji mereka dalam Al-Quran karena mereka mendahulukan kepentingan orang lain meskipun mereka sendiri sedang dalam kesulitan. 


Mereka tidak memiliki mentalitas maunya ditraktir, justru mereka berlomba-lomba untuk memberi.


Bagi kita para pendidik, ada tiga hal yang perlu direnungkan agar terhindar dari penyakit pelit ini:


1. Bagi Makanan


Jangan remehkan sekotak donat atau sebungkus keripik yang diletakkan di meja ruang guru. Itu bukan sekedar urusan perut, tapi urusan kerekatan jiwa.


2. Menghapus Mentalitas Gratisan


Tahu tidak, kapan harga diri seorang pendidik jatuh? Salah satunya adalah saat ia selalu menunggu ditraktir tapi tidak pernah mau mengeluarkan seribu rupiah pun untuk orang lain.


3. Keberkahan Gaji Bukan pada Angkanya


Imam Syafi'i rahimahullah pernah berpesan tentang pentingnya menjaga sifat dermawan. Gaji kita sebagai guru mungkin tidak seberapa menurut perhitungan matematika manusia, namun gaji itu akan menjadi sangat luas dan berkah saat ada bagian yang mengalir ke perut saudara kita. Sifat pelit justru akan menutup pintu-pintu rezeki yang tidak disangka-sangka. 


Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala telah berjanji bahwa siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya?


Mari kita melakukan refleksi sejenak. Jika hari ini kita masih merasa berat untuk berbagi sepotong kue di ruang guru, atau masih merasa senang saat dompet tetap tebal karena selalu ditraktir teman, barangkali ada yang perlu diperbaiki dengan niat kita menjadi pendidik.


Pendidik adalah pemberi informasi. Kita memberi ilmu, memberi waktu, memberi perhatian, dan seharusnya juga memberi teladan dalam kedermawanan materi. Jangan biarkan ruang guru kita menjadi dingin dan kering hanya karena ego kita yang tidak mau berbagi rezeki.


Mari kita bersihkan hati dari sifat syuuh atau kikir yang mendarah daging. Mulailah besok pagi dengan membawa sesuatu, meski kecil, untuk dinikmati bersama di kantor. 


Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa melapangkan hati kita, menjauhkan kita dari sifat pelit, dan menjadikan rezeki kita wasilah untuk masuk ke dalam surga-Nya.


Barokallohu fiikum.


Makassar, 26 Agustus 2026




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo