Doakan Pak Prabowo

 

Kusnandar Putra


Bayangkan Anda sedang menggulir layar ponsel  di pagi hari. 


Hanya butuh waktu kurang dari tiga detik bagi jempol kita untuk menekan tombol bagikan pada sebuah narasi kebencian. 


Algoritma media sosial seringkali memberi panggung pada kegaduhan, membuat kita membenci dan mencaci adalah bentuk ekspresi kebebasan. 


Apa mindset ulama terdahulu terhadap pemimpin? 


Mari kita menengok sejenak kisah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau adalah ulama yang pernah mengalami ujian luar biasa, dipenjara dan disiksa oleh penguasa pada masanya karena mempertahankan prinsip akidah. 


Namun, apakah beliau membalasnya dengan ajakan untuk membenci atau memprovokasi massa guna meruntuhkan wibawa pemimpin?


Sama sekali tidak! Imam Ahmad bin Hanbal justru pernah berkata dengan kalimat yang sangat masyhur, 


"Seandainya aku memiliki satu doa yang mustajab (pasti dikabulkan), niscaya doa itu akan aku peruntukkan bagi penguasa."


Mungkin kita bertanya, mengapa beliau justru mendoakan orang yang telah menyakitinya? 


Alasannya sangat visioner dan mendalam. Jika penguasa itu baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat dan negara. Namun jika doa itu hanya untuk diri sendiri, maka manfaatnya hanya berhenti di satu orang saja. 


Inilah kecerdasan spiritual yang seringkali luput dari perhatian kita di era digital ini.


Sekarang, mari kita bawa konteks ini pada realita bangsa kita hari ini. 


Kita memiliki Bapak Prabowo Subianto sebagai pemimpin bangsa. 


 Jika kapal ini bocor karena kita terus-menerus melubanginya dengan narasi kebencian, bukankah kita semua yang ada di dalamnya akan ikut tenggelam?


Jangan selalu mau memelihara sifat benci. Kebencian itu melelahkan hati. 


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kita untuk menjaga lisan dan hati. 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ


“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’”

 (HR. Muslim)


Bayangkan jika setiap rakyat Indonesia mendoakan kebaikan bagi Pak Prabowo. Doa agar beliau diberi kekuatan, petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta'ala, serta dikelilingi oleh penasihat yang amanah. 


Bukankah doa itu akan jauh lebih dahsyat dampaknya daripada seribu komentar nyinyir di kolom komentar media sosial?


Ingatlah kawan-kawan sekalian, kebencian tidak akan pernah melahirkan kedamaian. Mari kita belajar untuk melapangkan dada. Membenci pemimpin bangsa hanya akan membuat energi kita terkuras pada hal yang tidak produktif. 


Sebaliknya, mendoakan pemimpin adalah bentuk kecintaan dan pemahaman bagus dalam memahami konsep kepemimpinan dalam Islam. 


Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menjaga negeri kita, memberikan taufik kepada Bapak Prabowo Subianto dalam mengemban amanah, dan melembutkan hati kita semua agar selalu dipenuhi oleh cinta, bukan kebencian.


Barokallohu fiikum. 


Gowa, 22 Agustus 2026



Comments

  1. Menginspirasi : " Sebaliknya, mendoakan pemimpin adalah bentuk kecintaan dan pemanahan bagus dalam memahami konsep kepemimpinan dalam Islam " .

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak