Gelar Tanpa Dampak

 


Kusnandar Putra


Pernahkan Anda menemukan teman yang punya gelar tapi pekerjaannya tidak sesuai? 


Banyak? 


Rasanya sayang sekali, bukan? 


Mereka menghabiskan waktu empat hingga lima tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2, 3 tahun untuk S3.


Dia menguras tabungan orang tua, dan begadang demi skripsi, namun akhirnya gelar tersebut tidak berdampak. 


Mereka bekerja di bidang yang jauh dari jurusan kuliahnya, atau bahkan ilmu yang dipelajari menguap begitu saja. 


Muncul pertanyaan, "Untuk apa capek-capek kuliah kalau ujung-ujungnya tidak terpakai?"


Jauh sebelum teori-teori pendidikan modern itu lahir, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan fondasi yang luar biasa tentang penempatan potensi manusia sesuai porsinya. 


Ingatkah kita bagaimana beliau menugaskan Zaid bin Thabit radhiyallahu 'anhu untuk mempelajari bahasa asing dan menulis wahyu karena kecerdasannya yang spesifik? 


Atau bagaimana beliau memberikan komando perang kepada Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu karena kepiawaian strateginya yang tak tertandingi?


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan peringatan keras melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya."


Pesan ini sangat mendalam bagi kita para pemilik gelar akademik. Gelar Anda bukan sekedar aksesori untuk mempercantik nama di undangan pernikahan. Gelar itu adalah pengakuan publik bahwa Anda adalah seorang yang berilmu dalam suatu bidang. 


Masyarakat menantikan kontribusi nyata dari ilmu tersebut. Jika Anda adalah sarjana pendidikan, maka muliakanlah dunia literasi dan pengajaran. Jika Anda sarjana ekonomi, jadilah solusi bagi kemiskinan umat di sekitar Anda. Jika Anda sarjana hukum, gunakan untuk terkait hukum. Jangan sampai kita menjadi barisan sakit hati yang merasa salah jurusan, lalu berhenti berkarya.


Tentu saja, ada kalanya lapangan kerja tidak selalu linier dengan ijazah. Namun, yang ingin saya tekankan adalah dampak. 


Anda boleh bekerja di mana saja untuk mencari nafkah, tapi jangan biarkan ilmu dari gelaran mati tersebut. Jangan sampai gelar Anda tidak memiliki frekuensi yang sama dengan denyut nadi masalah di masyarakat.


Jangan sampai kita sudah lelah menghabiskan usia muda di bangku kuliah, tapi tidak memiliki tabungan amal jariyah di akhirat karena ilmu itu hanya berhenti di dokumen digital komputer saja. Setiap huruf yang kita pelajari dan setiap gelar yang kita sandang akan dimintai pertanggungjawabannya secara detail oleh Allah subhanahu wa ta'ala.


Mari kita memperbaiki orientasi hidup kita. Mari kita jadikan setiap gelar akademik yang kita miliki sebagai alat untuk mengetuk pintu surga melalui pengabdian. Jangan biarkan gelar Anda kosong tanpa makna, buatlah ia hidup dan berdenyut di tengah masyarakat yang sangat membutuhkan sentuhan orang-orang berilmu.


Barokallohu fiikum. 


Gowa, 23 Agustus 2026.




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Doakan Pak Prabowo