Jamaah: Saya Suka Cara Ustaz Menyampaikan Khutbah

 

Kusnandar Putra

Waktu selesai salat Jumat kemarin (28/8), seorang jamaah menyapa saya. Beliau memberikan tanggapan positif atas khutbah yang baru saja saya sampaikan.

Beliau mengatakan kira-kira seperti ini, "Saya suka cara ustadz membawakan khutbah."

Tidak berhenti di situ, dia bahkan memastikan nomor HP saya, disimpan pengurus masjid.

Alhamdulillah, momen itu membuat saya bersyukur. Mungkin inilah yang disebut sebagai buah dari ilmu Public Speaking untuk Khatib Jumat.

Alhamdulillah sudah beberap kali kami dapat respon yang baik seperti ini.

Bagi seorang khatib, kemampuan berbicara di depan publik bukan sekadar teknik biasa, tapi memang ada ilmunya.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam saat berkhutbah?

Dalam sebuah kisah yang disampaikan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, sebagaimana terekam dalam Hadis Riwayat Muslim, dikisahkan bahwa apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah, kedua matanya memerah, suara dia meninggi, dan semangat dia berkobar seolah-olah dia sedang memberikan peringatan kepada pasukan perang.

Ini menunjukkan bahwa mimbar Jumat membutuhkan energi, artikulasi yang jelas, dan penjiwaan yang mendalam.

Khatib tidak boleh berhenti belajar. Dunia terus berubah, tantangan umat semakin kompleks, maka cara kita menyampaikan kebenaran pun harus berevolusi tanpa kehilangan esensi khutbah.

Selain itu, ada unsur kebaruan atau khazanah baru yang mereka dapatkan.

Jamaah hari ini adalah masyarakat yang terpapar arus informasi luar biasa cepat. Jika materi yang disampaikan hanya itu-itu saja tanpa ada pendalaman atau sudut pandang baru, maka potensi tidur akan lebih besar daripada fokus jamaah.

Khatib perlu rajin membaca literatur klasik maupun penelitian modern. Saat jamaah mendengar sesuatu yang segar, telinga mereka akan terbuka lebar.

Jika khatib tidak mau belajar cara berkomunikasi yang efektif, kita khawatir pesan mulia dari Al-Quran dan Sunnah tidak tersampaikan dengan maksimal karena keterbatasan cara menyampaikan khatib.

Namun, di atas semua teknik public speaking yang kita pelajari, ada satu hal yang tetap menjadi ruh utama, yaitu keikhlasan.

Ilmu public speaking hanyalah alat, sedangkan penggerak hati jamaah tetaplah Allah subhanahu wa ta'ala.

Khatib yang terus belajar adalah khatib yang sedang berikhtiar memperbaiki kualitas jantung dan cara kinerjanya.

Mari para khatib terus memuliakan diri dengan bacaan, melatih public speaking, dan selalu membersihkan niat.

Semoga setiap kata yang keluar dari lisan para khatib menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Amin.

Barokallohu fiikum

Makassar, 29 Agustus 2026

---

catatan.
Yang mau belajar Public Speaking bersama Kusnandar Putra. Hub WA 082 393 134 148



Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo