Mengubur Pembodohan

 

Kusnandar Putra


Apa yang paling berbahaya dari orang yang merasa tahu? 


Bukan ketidaktahuannya, melainkan keyakinannya yang teguh dalam menyebarkan berita yang belum tentu benar. 


Hari ini, kita hidup di zaman di mana jempol seringkali bergerak lebih cepat daripada kerja otak. 


Hanya butuh waktu tiga detik untuk meneruskan sebuah pesan di grup percakapan, tapi dampaknya bisa merusak tatanan masyarakat selama bertahun-tahun.


Pernahkah anda menemui seseorang yang begitu bersemangat menjelaskan obat, namun saat ditanya darimana sumbernya, ia hanya menjawab, 


"Katanya orang-orang."


Inilah yang disebut dengan qila wa qal, alias kabar burung yang tidak memiliki akar sanad dan logika yang jelas. 


Kita seolah-olah berlomba menjadi yang tercepat dalam menyebar informasi, tanpa peduli apakah informasi itu mencerdaskan atau justru membodohi.


Belajarlah sampai anda benar-benar pintar. Mengapa? Supaya Anda memiliki kapasitas untuk menjelaskan kebenaran kepada masyarakat dengan argumen yang kokoh, bukan sekadar ikut-ikutan.


Kebenaran informasi adalah segalanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberikan peringatan keras. Dalam sebuah riwayat hadis yang dibawakan oleh Imam Muslim rahimahullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa cukuplah bagi seseorang dikatakan sebagai pendusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.


Bayangkan, hanya dengan menceritakan kembali apa yang kita dengar tanpa melakukan verifikasi, kita sudah bisa dikategorikan sebagai pendusta oleh Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 


Mengapa demikian? 


Karena tidak semua yang kita dengar itu benar. Di sinilah pentingnya kecerdasan dan ketelitian. Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kita untuk melakukan tabayyun atau verifikasi


Jangan puas hanya dengan membaca judul berita atau cuplikan video pendek. 


Kita mengenal sanad atau mata rantai keilmuan. Siapa yang mengatakannya? Apakah dia ahli di bidangnya? Apa bukti pendukungnya? 


Jika jawabannya hanya katanya, maka lebih baik lisan kita diam agar terjaga dari dosa.


Tugas orang pintar bukan untuk terlihat rumit, melainkan untuk membuat hal yang rumit menjadi mudah dipahami oleh masyarakat awam. 


Menjadi pintar adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. 


Dengan ilmu, kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh opini publik yang liar. Dengan ilmu, kita bisa menjadi pelita di tengah kegelapan hoaks yang menyesatkan. 


 Ilmu bukan hanya untuk disimpan di kepala, tapi untuk diamalkan dan disebarkan demi kemaslahatan masyarakat luas.


Barokallohu fiikum. 


Makassar, 1 Agustus 2026



Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo