Sarjana Agama yang Menimbun Cahayanya Sendiri

 

Kusnandar Putra


Pernahkah Anda membayangkan seorang petugas pemadam kebakaran yang sangat ahli, namun ia hanya duduk diam saat melihat rumah tetangganya hangus dilalap api? 


Alih-alih menyemprotkan air, ia justru sibuk mengingat medalinya di rumah, menghitung tabungan untuk membeli perabotan baru. 


Menyebalkan, bukan? 


Sayangnya, pemandangan serupa kini mulai jamak kita temui di dunia pendidikan Islam.


Fenomena ini adalah tentang mereka yang bertahun-tahun menuntut ilmu di bangku kuliah jurusan agama, pesantren, bahkan di luar negeri. 


Mereka bisa membaca kitab gundul dengan lancar, paham fiqih ibadah, dan mampu menjelaskan sejarah Islam. Namun, ketika kembali ke masyarakat, mereka menghilang. 


Mereka tidak mengajar di masjid, tidak membimbing anak-anak tentang tauhid, dan tidak hadir saat umat kebingungan mencari arah. 


Mereka lebih memilih tenggelam dalam hiruk-pikuk urusan duniawi semata. Inilah, sebuah kegagalan yang nyata.


Mengapa ini disebut kegagalan? 


Padahal mereka orang pintar?


Mari kita menengok sejenak di pesan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau sering berdoa agar terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam Muslim rahimahullah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersyukur dan memohon perlindungan dari hati yang tidak khusyuk dan ilmu yang tidak memberi manfaat.


Ilmu dalam Islam bukanlah sekadar komoditas kognitif untuk menaikkan status sosial atau sarana mencari jabatan. 


Ilmu adalah amanah untuk disampaikan. Ingatkah kita pada kisah Ummu Salamah radhiyallahu 'anha yang tidak hanya menyimpan pemahamannya tentang syariat untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi referensi hukum bagi para sahabat setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam? 


Jika para pemilik ilmu memilih diam, dari mana masyarakat awam akan mendapatkan bimbingan?


Apa yang terjadi jika para sarjana jurusan agama lebih sibuk mengejar target duniawi daripada mengurus umat?


1. Kekosongan Figur Teladan


Masyarakat kehilangan kompas. Saat ahli fiqih enggan mengajar karena merasa honornya kecil atau waktunya tersita untuk bisnis, maka panggung dakwah akan diisi oleh mereka yang hanya bermodal semangat tanpa kedalaman ilmu. Ini berbahaya bagi akidah umat.


2. Ilmu yang Cepat Menguap


Secara psikologi pendidikan, ada konsep yang disebut dengan Learning by Teaching. Seseorang yang membagikan ilmunya akan memiliki pemahaman yang jauh lebih dalam dan langgeng. Imam Syafi'i rahimahullah pernah berpesan bahwa ilmu itu laksana hewan buruan, dan menuliskannya serta mengamalkannya adalah menyegelnya. Jika ilmu tidak diamalkan dan diajarkan, ia akan hilang ditelan kesibukan dunia.


3. Hilangnya Keberkahan


Keberkahan ilmu terletak pada manfaatnya bagi orang lain. serupa dengan prinsip khairunnas anfa'uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya). Jika seorang alumni jurusan agama hanya menggunakan gelarnya untuk mencari kerja yang tidak ada teknisnya dengan perbaikan umat, maka ia telah memutus rantai keberkahan tersebut.


Tentu saja kita tidak melarang para sarjana agama untuk berbisnis atau bekerja di sektor profesional. 


Menjadi kaya itu boleh, bahkan bisa menjadi mulia jika digunakan untuk dakwah. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika urusan dunia itu membuat mereka lupa pada kewajiban asasinya sebagai warasatul anbiya atau pewaris para Nabi.


Bukankah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi? 


Tugas utama Nabi adalah mengajak, mendidik, dan membawa perubahan bagi umat. 


Jika pewarisnya hanya asyik sendiri dengan dunianya tanpa mau mengajar, lalu siapa yang akan melanjutkan tugas mulia tersebut?


Bagi rekan-rekan alumni jurusan agama atau para pembawa ilmu, mari kita jujur ​​pada diri sendiri. 


Apa tujuan kita belajar selama ini? 


Apakah hanya untuk selembar ijazah agar bisa melamar kerja, atau untuk menjadi lentera di tengah kegelapan masyarakat?


Mulailah dari langkah kecil. Berikut adalah contoh agar lebih bermanfaat di tengah manusia:


1. Bukalah majelis di masjid


Jangan ada bahasa akad biaya taklim Anda. Tawarkan diri untuk mengisi pengajian dan itu gratis. 


2. Manfaatkan media sosial 


Bagikan ilmu di media sosial. Buat saluran. 


3. Buka konsultasi gratis di website, dll


Jika ada masyarkat ingin bertanya, Anda bisa menjawab di website Anda. 


Keberhasilan seorang sarjana agama dari seberapa besar dampak kehadirannya dirasakan oleh umat. 


Jangan sampai kita termasuk orang yang membawa cahaya, namun membiarkan orang di sekitar kita tersesat dalam kegelapan.


Mari perbaiki niat. Mari bersihkan hati. Kembalilah ke umat, karena di sanalah ilmu kita menemukan makna diri kita sendiri sebagai hamba yang bermanfaat. 


Barokallohu fiikum.


Gowa, 23 Agustus 2026





Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo