Terjebak Info MBG dan Kopdes
Kusnandar Putra
Bayangkan di warung kopi seseorang menunjukkan layar ponselnya kepada rekan di sebelahnya, lalu dalam sekejap, lima orang di sekitarnya tiba-tiba menghujat pemerintah.
Padahal, video yang mereka tonton hanya berdurasi lima belas detik, dipotong di bagian paling kontroversial, dan diberi narasi negatif kepada pemerintah.
Bayangkan, sebuah informasi untuk merusak ketenangan batin seseorang dan mengubahnya menjadi kebencian yang besar.
Kita lebih cepat percaya daripada skeptis. Apakah ini benar? Siapa yang membuat konten ini? Apa tujuannya?
Islam telah memberikan panduan yang sangat elegan mengenai hal ini ribuan tahun yang lalu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah lama mengingatkan kita tentang bahaya lisan dan berita bohong.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda bahwa cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.
Ambillah contoh yang sedang hangat, seperti kebijakan Makan Bergizi Gratis atau narasi tentang koperasi desa.
Banyak orang langsung terpancing emosi hanya karena melihat potongan klip pendek.
Ada yang menghujat soal anggarannya, ada yang menuduh itu hanya alat politik, tanpa mau bee literasi.
Kita sering terjebak bias informasi. Kita hanya mau percaya pada berita yang mendukung kebencian kita, dan langsung menolak fakta yang sebenarnya.
Ingat siapa yang memproduksi konten-konten tersebut?
Sebagian besar adalah pembuat konten yang mengejar jam tayang dan pendapatan iklan.
Mereka bukan jurnalis yang memiliki kode etik. Mereka kadang oposisi yang memang bertugas mencari sisi negatif psmerintah.
Bagi mereka, semakin Anda marah dan semakin banyak komentar yang disertakan di unggahan mereka, semakin besar keuntungan yang mereka dapatkan.
Apakah kita rela masuk akal sehat kita dibajak hanya demi keuntungan finansial orang lain?
Allah subhanahu wa ta'ala dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 6,
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Bertanya dan memverifikasi adalah ciri orang yang beriman dan berakal.
Sebelum ikut-ikutan membenci atau mencaci maki di media sosial, tanyakan pada diri sendiri,
"Apakah komentar saya ini menambah kebaikan bagi bangsa atau justru menambah dosa jariyah?"
Menjadi kritis bukan berarti harus menjadi pembenci.
Masyarakat yang cerdas adalah mereka yang mampu membedakan antara kritik yang membangun dengan hasutan yang memecah belah.
Jangan biarkan kebencian kepada suatu kaum atau pihak membuat kita berlaku tidak adil dalam menilai kebenaran.
Barokallohu fiikum.
Makassar, 31 Agustus 2026


mbg memang mengundang pro dan kontra, lanjutkan dan terus menulis agar semakin banyak orang tahu siapa dirimu
ReplyDeleteMakasih banyak Omjay
Delete