Terjebak Notifikasi

 


Kusnandar Putra


Pernahkah kita memperhatikan bagaimana jari-jari kita begitu lincah melakukan scrolling di layar ponsel selama berjam-jam? 


Kita sanggup menatap layar yang bercahaya itu demi melihat kehidupan orang lain, mengikuti tren terbaru, atau sekadar membalas pesan di grup yang tak kunjung usai. 


Namun, sadarkah kita bahwa di sudut rumah, ada mata kecil yang sedang melakukan scrolling pada wajah kita, mencari perhatian, dan merindukan sentuhan? 


Di era digital ini, kita sering terjebak dalam notifikasi yang tak ada habisnya, hingga kehadiran fisik kita di rumah hanyalah sekadar raga tanpa jiwa. 


Kita sibuk bekerja atas nama masa depan anak, namun kita justru kehilangan masa kini mereka. 


Tahu tidak, kapan terakhir kali anak-anak kita tertawa lepas hingga berkeringat karena bermain bersama kita? 


Ataukah selama ini mereka lebih sering melihat punggung kita yang sedang asyik dengan gawai?


Bagaimanakah teladan sang pendidik sejati, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? 


Beliau adalah sosok yang paling sibuk di muka bumi, memimpin umat dan negara, namun beliau tidak pernah mengabaikan hak bermain anak-anak. 


Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dikenal sering bermain dan bercanda dengan anak-anak. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bermain dengan cucunya, Hasan dan Husain, untuk menunjukkan kasih sayangnya. Meluangkan waktu dengan anak-anak bukan hanya mempererat ikatan, tetapi juga memberikan keteladanan yang baik dalam hal kasih sayang.


Bagi Ayah dan Bunda yang mungkin saat ini merasa terlalu sibuk, mari kita renungkan sejenak. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk mengembalikan kebahagiaan di tengah keluarga:


1. Letakkan Gadget


Saat berada di rumah, buatlah zona bebas ponsel. Terutama saat anak-anak sedang mengajak bicara. Tanamkan nilai tauhid, fiqih, dll. Tatap mata mereka, berikan respon yang tulus. Anak tidak butuh orang tua yang sempurna, mereka butuh orang tua yang hadir secara utuh.


2. Agendakan Waktu 


Ajak bermain, berenang. Tidak perlu setiap hari, namun buatlah itu menjadi momen yang mereka nantikan setiap pekan. Di dalam air, lepaskan semua jabatan dan beban pekerjaan. Jadilah teman main mereka.


3. Kurangi Keluhan


Sering kali kita mengeluh lelah pulang kerja, sehingga saat anak mendekat, kita justru menghindar. Ingatlah bahwa anak-anak adalah amanah dari Allah subhanahu wa ta'ala yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Kelelahan kita dalam mengurus dan membahagiakan mereka adalah penggugur dosa.


 Jangan biarkan masa kecil mereka berlalu tanpa memori indah bersama kita. Sebab, pada akhirnya, bukan harta melimpah yang akan mereka kenang, melainkan kehangatan pelukan dan tawa saat kita bermain bersama di kolam renang atau di ruang tamu yang sederhana.


Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa melembutkan hati kita untuk selalu mendahulukan kebahagiaan keluarga di atas kepentingan duniawi yang sementara.


Barokallohu fiikum.


Gowa, 22 Agustus 2026





Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo