Tren Ikut-ikutan Ngopi

 


Kusnandar Putra

Pernahkah Anda berdiri di tengah antrean panjang sebuah kedai kopi, kaki mulai pegal, tapi Anda tetap bertahan hanya karena viral orang pesan kopi tersebut di media sosial? 

Kita hidup di era tiga detik. Tiga detik melihat layar, lalu tiga detik kemudian kita merasa harus memiliki apa yang orang lain punya. 

Fenomena ini membuat kita seringkali lupa bertanya pada diri sendiri, “Saya ini butuh, atau ikut-ikutan?”

Jangan mau sekadar ikut-ikutan. Saat dunia sedang ramai berburu kopi, Anda tidak harus berlari ikut jika sebenarnya Anda sedang membutuhkan air putih untuk kesehatan. 

Menjadi berbeda karena memiliki prinsip bukan berarti aneh, melainkan suatu bentuk kemandirian berpikir yang sudah mulai langka di zaman sekarang.

Anda harus memiliki pendirian yang kokoh. Jika orang-orang melakukan kebaikan, kami dukung dan ikuti. Namun, jika orang-orang terjebak dalam kesia-siaan atau pemborosan hanya demi gengsi, jangan ikut-ikutan. 

Ingat, seorang mukmin itu harus punya jati diri, bukan sekadar mengikuti arah angin bertiup.

Konsep Berpikir Kritis atau berpikir kritis adalah salah satu pilar utama dari kecakapan abad ke-21. Berpikir kritis berarti mampu menyebarkan informasi dan mengambil keputusan secara mandiri. 

Jika kita hanya bergerak karena dorongan tren, maka kita sebenarnya sedang menyerahkan kemudi hidup kita kepada orang lain.

Dunia ini hanyalah panggung sementara. Sangat mengerikan jika hidup singkat ini hanya kita habiskan untuk menjadi bayangan dari gaya hidup orang lain. 

Jadilah pribadi yang memiliki sikap. Beranilah mengatakan tidak pada hal yang tidak Anda perlukan, meskipun sejuta orang di sekitar Anda mengatakan iya.

Kesederhanaan dan ketegasan dalam memilih adalah bagian dari tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Ketika hati tidak lagi bergantung pada validasi manusia melalui simbol-simbol materi, maka disitulah ketenangan yang hakiki akan hadir. 

Mari kita perbaiki niat kita dalam setiap langkah, agar setiap rupiah yang keluar dan setiap detik yang berlalu benar-benar bernilai ibadah di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala.

Barokallohu fiikum. 

Gowa, 28 Agustus 2026


Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo