Ayah yang Hadir
Kusnandar Putra
Anak tidak hanya membutuhkan nafkah, tetapi juga membutuhkan kehadiran, perhatian, dan kebersamaan.
Kesibukan mencari rezeki memang penting.
Akan tetapi, jangan sampai kesibukan membuat seorang ayah kehilangan kesempatan untuk membersamai anak.
Anak membutuhkan ayah yang mau duduk bersamanya, mendengarkan ceritanya, bermain, dan berkomunikasi tanpa selalu terganggu oleh pekerjaan atau gawai.
Mengapa kebersamaan ayah dan anak begitu penting?
Di rumah, bisa saja seorang ayah hadir secara fisik, tetapi pikirannya terus sibuk dengan pekerjaan. Anak berada di dekatnya, tetapi merasa tidak benar-benar ditemani.
Padahal, bermain bersama, menemani belajar, makan bersama, atau sekadar berbincang sebelum tidur merupakan bentuk kebersamaan yang dapat memperkuat hubungan emosional antara ayah dan anak.
Dalam Islam, keluarga bukan hanya tempat memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga tempat menanamkan kasih sayang, pendidikan, dan tanggung jawab. Allah Ta'ala berfirman, artinya
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
(Surah At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua terhadap keluarga tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan duniawi, tetapi juga mencakup pembinaan keluarga. Menanamkan tauhid, akhlak, adab, dll.
Karena itu, seorang ayah jangan sampai hanya dikenal sebagai orang yang bekerja untuk keluarga, tetapi jarang hadir dalam kehidupan anak-anaknya.
Anak mungkin tidak selalu mengingat barang yang dibelikan ayahnya, tetapi ia dapat mengingat waktu ketika ayahnya bermain, mendengarkan, dan membersamainya.
Mari kita luangkan waktu untuk anak-anak.
Mari bermain bersama, berkomunikasi, dan menjalankan fungsi kebersamaan sebagai ayah.
Sebab, kehadiran ayah bukan sekadar berada di rumah, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan anak.
Barakallahu fiikum.
Makassar, 18 September 2026


Comments
Post a Comment