Baca, Baca-baca, Baca-Bacai
Kusnandar Putra
Kemarin (20/9), saya mengikuti sebuah pelatihan. Ada satu kalimat dari pembicara yang menarik perhatian saya tentang tiga level membaca, yaitu "baca, baca-baca, dan baca-bacai".
Baca adalah membaca. Baca-baca bisa berarti membaca sekilas. Sementara baca-bacai adalah membaca dengan lebih mendalam hingga memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sebuah tulisan atau buku.
Tentu saja, istilah tersebut bukan sekadar permainan kata.
Ada pesan penting di dalamnya, "jangan hanya membaca, tetapi pahamilah apa yang kita baca."
Sebab membaca tanpa memahami terkadang hanya membuat mata kita bekerja, tetapi pikiran tidak benar-benar mendapatkan ilmu.
Kita membaca banyak buku, banyak artikel, banyak informasi di media sosial. Namun setelah selesai membaca, apa yang sebenarnya kita dapatkan?
Apakah hanya selesai membaca?
Atau ada ilmu yang masuk ke dalam pikiran, ada pemahaman yang bertambah, kemudian ada sikap dan perilaku yang berubah?
Di sinilah pentingnya meningkatkan level membaca.
Jangan menjadikan membaca hanya sebagai aktivitas untuk menghabiskan waktu.
Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
Orang yang menjadikan membaca sebagai kebutuhan akan selalu merasa ada sesuatu yang ingin dipelajari.
Dia membaca bukan sekadar untuk mengatakan, “Saya sudah membaca buku itu,” tetapi untuk memahami, mengambil pelajaran, dan menerapkannya dalam kehidupan.
Dalam Islam, membaca adalah sebuah tradisi keilmuan.
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,
“Jalan mencari kesempurnaan belajar ilmu adalah membaca buku-buku. Perbanyaklah membacanya. Karena anda akan melihat ilmu seseorang dan semangatnya yang tinggi. Apa yang tidak terlintas di benak, dan akan menggerakkan keinginan untuk belajar. Tidak ada kitab yang tidak memiliki manfaat.”
Karena itu, mari naik level.
Jangan hanya baca.
Jangan berhenti pada baca-baca.
Tetapi berusahalah untuk baca-bacai, yaitu membaca dengan perhatian, memahami isinya, merenungkannya, mengambil ilmunya, lalu mengamalkannya.
Sebab tujuan akhir dari membaca bukanlah sekadar menambah halaman yang selesai dibaca.
Tetapi menambah ilmu, memperbaiki cara berpikir, memperbaiki sikap, dan memperbaiki kehidupan.
Barokallohu fiikum.
Gowa, 20 September 2026


Comments
Post a Comment