Bahaya "Pengadilan" Jalanan

 


Kusnandar Putra


Senin, 7 September kemarin menjadi sebuah pengingat yang cukup membekas. Sore itu, mobil saya sedang parkir. Tiba-tiba, sebuah sepeda motor menyalip dengan ceroboh dan menyerempet tubuh mobil hingga menimbulkan lecet. 


Namun, apa yang terjadi selanjutnya? 


Beberapa warga sekitar berkumpul. Bukannya menanyakan kronologi atau melihat siapa yang melanggar aturan, mereka justru langsung menunjukkan sikap membela pengendara motor tersebut. 


"Hanya lecet sedikit saja."


Pernahkah Anda mengalami hal serupa?


 Atau mungkin Anda pernah berada di posisi warga yang langsung menghakimi tanpa tahu duduk perkaranya?


Inilah fenomena pengadilan warga yang sangat berbahaya. 


Masyarakat kita sering kali memiliki kecenderungan psikologis untuk membela pihak yang terlihat lebih lemah atau kecil, tanpa memedulikan siapa yang benar secara hukum dan fakta.


 Padahal, dalam prinsip keadilan, kebenaran tidak ditentukan oleh jenis kendaraan yang kita kendarai.


Dalam kacamata Islam, keadilan adalah fondasi utama dalam masyarakat. 


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan teladan yang sangat tegas mengenai hal ini. Ingatkah kita pada sebuah peristiwa saat seorang wanita dari kaum terpandang, yakni suku Makhzum, tertangkap mencuri?


Para sahabat saat itu merasa bimbang. Mereka mengutus Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu untuk meminta keringanan hukuman kepada Nabi karena status sosial wanita tersebut. Namun, apa tanggapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam? Beliau bersabda dengan nada tegas yang menggetarkan, 


Apakah anda meminta syafaat dalam hukum Allah? Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena jika orang yang terpandang mencuri, mereka membiarkannya. Namun jika orang lemah yang mencuri, mereka menegakkan hukum di atasnya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).


Keadilan tidak mengenal kasta. Begitu pula dalam kasus kecelakaan di jalan raya. Membela orang yang salah hanya karena dia terlihat miskin atau kecil bukanlah sebuah kebaikan. 


Kita diajarkan untuk tidak terjebak dalam satu sesi berpikir atau kekeliruan logika. Menilai kebenaran hanya berdasarkan status ekonomi atau fisik luar adalah bentuk opini pemikiran.


 Masyarakat harus mati agar tidak menjadi hakim jalanan yang justru mencederai hak orang lain.


Sebagai pelajaran, jika terjadi kejadian yang banyak, ke kantor polisi terdekat. Polisi memiliki kompetensi dan alat bukti untuk menentukan siapa yang melanggar aturan. Jangan biarkan warga mengambil keputusan sendiri yang berpotensi merusak properti atau melukai fisik seseorang.


Sikap membela yang kecil tanpa dasar kebenaran ini jika dibiarkan akan merusak tatanan sosial kita. 


Kita ingin hidup di lingkungan yang aman, di mana kebenaran ditegakkan, bukan di lingkungan yang siapa pun yang terlihat susah, dia yang selalu benar.


Barokallohu fiikum. 


Makassar, 9 September 2026



Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo