Belajar Memaafkan dari Rasulullah
Kusnandar Putra
Dalam kehidupan, kita pasti pernah disakiti.
Ada ucapan yang membuat hati terluka. Ada sikap yang membuat kecewa. Ada orang yang berbuat salah kepada kita, bahkan mungkin kesalahannya sulit untuk dilupakan.
Tetapi Islam mengajarkan satu akhlak yang tidak selalu mudah dilakukan, yaitu memaafkan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“Dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.”
Memaafkan bukan berarti kita menganggap kesalahan itu benar.
Memaafkan berarti kita memilih untuk tidak terus-menerus menyimpan kebencian di dalam hati.
Karena terkadang yang membuat hati kita lelah bukan masalahnya, tetapi karena kita terus mengingat kesalahan orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling banyak memberikan contoh tentang memaafkan.
Kita bisa melihat kisah Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaklukkan Makkah, Hatib mengirim surat kepada Quraisy yang berisi informasi tentang rencana Rasulullah.
Ini adalah kesalahan yang serius.
Para sahabat pun ingin memberikan hukuman kepadanya.
Umar bin Khattab naik pitam karena kegeramannya melihat Hatib yang seolah-oleh mengkhianati Nabi dan sahabat yang lain. Umar langsung berkata,
“Izinkan saya ya Rasul untuk memenggal orang munafik ini!” Ujar Umar.
Namun Rasulullah melarang Umar dengan menjawab,
“Bukankah dia telah ikut berperang dalam perang Badar ya Umar!!
Hatib menjelaskan bahwa dirinya melakukan hal tersebut bukan karena murtad atau membenci Islam, tetapi karena memiliki keluarga yang berada di Makkah dan berharap Quraisy melindungi keluarganya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerima penjelasannya.
Dari kisah ini kita belajar bahwa orang yang bersalah tetap memiliki kesempatan untuk menjelaskan dan memperbaiki diri.
Bahkan Hatib adalah, seorang sahabat yang ikut perang Badar. Dan banyak kebaikan lainnya. Artinya jangan sampai 1 kesalahan, membuat kita menutupi ratusan kebaikan orang lain.
Memaafkan bukan berarti lemah.
Justru terkadang dibutuhkan hati yang kuat untuk mengatakan, “Saya maafkan.”
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.”
Maka mari bertanya kepada diri sendiri,
Adakah orang yang sampai hari ini belum kita maafkan?
Adakah kesalahan seseorang yang masih terus kita ungkit?
Adakah luka lama yang masih kita bawa sampai hari ini?
Jangan sampai kita meminta Allah mengampuni dosa-dosa kita, tetapi kita sendiri sulit mengampuni kesalahan manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.
Karena itu, belajarlah memaafkan.
Memaafkan pasangan.
Memaafkan anak.
Memaafkan saudara.
Memaafkan teman.
Memaafkan tetangga.
Dan yang paling penting, belajar memaafkan bukan karena orang tersebut selalu benar, tetapi karena kita ingin mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Bukankah kita juga ingin Allah mengampuni kesalahan kita?
Kalau kita ingin Allah memaafkan kita, maka jangan terlalu berat untuk memaafkan orang lain.
Kadang kita berkata, “Saya sudah memaafkan, tetapi saya tidak akan pernah melupakannya.”
Tidak apa-apa jika sebuah pengalaman menjadi pelajaran.
Tetapi jangan biarkan pengalaman itu berubah menjadi kebencian.
Lupakan dendamnya, ambil pelajarannya.
Karena hati yang penuh dendam sulit merasakan ketenangan.
Sedangkan hati yang mau memaafkan akan lebih mudah merasakan kelapangan.
Barokallohu fiikum.
Gowa, 6 September 2026


Comments
Post a Comment