Guru, Jadilah Muallim!
Kusnandar Putra
Bayangkan jika sekolah kita hanya menjadi sebuah minimarket pengetahuan. Guru datang sebagai kasir yang mengkodekan materi barcode, lalu murid membayar dengan kehadiran untuk mendapatkan nilai. Selesai.
Jika ada murid yang diam-diam menyimpan rokok di saku celananya atau asyik berbalas pesan mesra dengan lawan jenis di bawah meja, sang guru memilih diam karena menganggap itu bukan bagian dari deskripsi kerjanya.
Bukankah ini sebuah tragedi pendidikan?
Guru yang hanya mengejar target ketuntasan kurikulum tanpa memedulikan keselamatan iman muridnya sebenarnya sedang melakukan pembiaran.
Kita bukan sekadar mengajar yang mentransfer data ke memori otak murid, kita adalah pembentuk peradaban dan penjaga fitrah mereka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah muallim maka guru sejati adalah guru yang tidak pernah memisahkan antara ilmu dan amal.
Suatu ketika, ada seorang pemuda datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan meminta izin untuk berzina. Bayangkan, izin untuk melakukan maksiat besar!
Sahabat yang lain mungkin sudah berang, namun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam justru mengajak pemuda itu berdialog dengan logika yang menyentuh hati.
Beliau bertanya dengan lembut, "Apakah kamu suka jika hal itu terjadi pada ibumu? Pada anak perempuanmu?"
Hingga akhirnya pemuda itu sadar dan didoakan oleh beliau agar hatinya disucikan.
Inilah dakwah dalam pendidikan. Mengajak mereka kepada kebenaran.
Kecerdasan tanpa pondasi iman hanya akan melahirkan orang pintar semata.
Murid yang cerdas namun merokok sejak bangku sekolah sebenarnya sedang merusak amanah fisik yang dititipkan Allah subhanahu wa ta'ala.
Murid yang berprestasi namun sudah berani pacar sedang menggadaikan kemuliaan dirinya demi kesenangan semu.
Saat mengajarkan Biologi tentang sistem pernapasan, jangan hanya berbicara soal paru-paru secara mekanis. Menjelaskan betapa dzalimnya kita jika memasukkan racun asap rokok ke dalam organ yang Allah subhanahu wa ta'ala desain dengan sangat sempurna ini. .
Saat mengajar Matematika, selipkan pesan bahwa setiap perbuatan kita, termasuk pergaulan bebas, memiliki variabel tanggung jawab yang pasti di akhirat kelak.
Dakwah adalah keteladanan. Guru yang melarang muridnya merokok namun ia sendiri masih merokok adalah sebuah ironi yang mematikan wibawa.
Murid perlu melihat bahwa gurunya adalah orang yang paling depan dalam menjaga diri dari larangan Allah subhanahu wa ta'ala.
Ingatlah pesan dari para ulama termasuk Imam Syafi'i rahimahullah tentang pentingnya adab sebelum ilmu. Jika kita membiarkan kemaksiatan tumbuh subur di depan mata kita tanpa ada usaha untuk menasihati, maka ilmu yang kita ajarkan pun akan sulit membawa keberkahan.
Tugas kita memang berat, namun pahalanya pun sangat luar biasa.
Setiap satu nasihat yang membuat seorang murid berhenti merokok atau membuat seorang siswi memutuskan untuk menjaga diri dari pacarnya karena takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala, akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir bahkan saat kita sudah di alam kubur nanti.
Jangan pernah lelah menjadi dai di sekolah. Di tengah gempuran konten media sosial yang sering kali merusak akhlak, menyuarakan dakwah.
Barokallohu fiikum
Makassar, 7 September 2026


Comments
Post a Comment