Hai Para Alumni Pesantren, Sejauh Mana Dunia Luar Mengubah Dirimu?

 

Kusnandar Putra


Menapakkan kaki keluar dari gerbang pesantren selalu membawa desir perasaan yang campur aduk. 


Ada rasa bebas, namun ada pula gelegak kecemasan.


 Setelah bertahun-tahun ditempa dalam hidup yang teratur, mulai dari bangun sebelum subuh, mengaji, hingga menghafal Al-Qur'an, hingga dunia luar menyambut alumni pesantren dengan wajah yang sangat berbeda. 


Sebuah dunia yang riuh, serba cepat, dan tak jarang menantang nilai-nilai yang dulu dipegang erat.


Hari ini, coba sejenak kita menoleh ke belakang dan bertanya pada diri sendiri, Sudah sejauh mana dunia luar mengubah dirimu?


Apakah hiruk pikuk karir, gemerlap gaya hidup, atau tekanan modernitas perlahan memudarkan warna santri dalam diri Anda?


 Ataukah sebaliknya, keberadaanmu di luar sana justru mewarnai lingkungan sekitar dengan cahaya keilmuan yang pernah kamu timba?


Sangat manusiawi jika alumni pesantren mengalami fase culture shock dan adaptasi. 


Namun, sungguh sebuah kerugian besar jika gelar "santri" itu hilang tanpa bekas, terkikis oleh arus zaman. 


Indonesia dan dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat merindukan sosok-sosok yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus akhlak yang mulia. 


Di sinilah letak panggilan sejarah bagi para alumni pesantren untuk berdakwah.


Dunia luar saat ini sedang mengalami krisis keteladanan dan dahaga spiritualitas. 


Masyarakat membutuhkan dakwah. Jika para alumni pesantren justru memilih mundur, bersembunyi, atau larut dalam kesibukan duniawi semata, lantas siapa lagi yang akan mengisi ruang-ruang publik dengan narasi dakwah?


Allah azza wajalla mengingatkan kita tentang pentingnya mengambil peran ini dalam Surah Ali 'Imran ayat 104, artinya, 


“Dan hendaknya ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”


Faedah besar dari ayat ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati (al-muflihun) tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan atau seberapa melimpahnya harta yang kita kumpulkan di dunia luar.


 Keberuntungan sejati dianugerahkan kepada mereka yang memanfaatkan ilmunya untuk mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran.


Selain itu, Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam juga mengingatkan keutamaan menjadi perantara hidayah bagi orang lain, 


"Demi Allah, sungguh satu orang saja mendapat hidayah melalui perantara dirimu, itu jauh lebih baik bagimu daripada unta-unta merah (harta paling berharga)."

(Riwayat Bukhari & Muslim)


 Telah tiba saatnya dakwah amanah berbuah manis di tengah-tengah masyarakat. Terjunlah ke dunia dakwah, sebab di manapun engkau pijakkan kaki, disitulah ladang pengabdianmu.


Barokallohu fiikum. 


Makassar, 29 September 2026



Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo