Jangan Menunggu Kehilangan untuk Mensyukuri
Kusnandar Putra
Pernahkah kita menyadari bahwa hampir setiap hari kita menggunakan sesuatu yang sangat penting, tetapi jarang kita renungkan?
Ketika BBM tersedia, kita menganggapnya sebagai hal biasa.
Namun, ketika terjadi kelangkaan, barulah kita menyadari betapa besar peran BBM dalam kehidupan sehari-hari.
Kita mengendarai motor ke tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, pergi ke pasar, menghadiri pengajian, dan menjalankan berbagai aktivitas.
Ketika BBM langka, kita baru menyadari bahwa banyak aktivitas kehidupan ternyata bergantung pada bahan bakar.
Begitu pula dengan manusia. Kita sering menjalani hidup tanpa menyadari bahwa ada banyak “bahan bakar” yang kita butuh.
Keluarga adalah bahan bakar semangat. Kasih sayang dan dukungan keluarga membuat seseorang mampu menghadapi kesulitan.
Tidak sedikit orang yang tetap bertahan dalam perjuangan karena ada keluarga yang mendoakan dan menguatkan.
Doa adalah bahan bakar keteguhan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(Surah Ar-Ra’d: 28)
Ilmu adalah bahan bakar kehidupan. Dengan ilmu, kita mengetahui mana yang mengantarkan ke surga. Ilmu agama membimbing kita, benahi akhlak, dan ilmu mengajari kita cara menjalani kehidupan yang berkah.
Kesehatan adalah bahan bakar untuk beraktivitas dan beribadah.
Ketika sehat, kita sering lupa bersyukur. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.
Sahabat yang saleh adalah kesyukuran. Sahabat yang baik mengingatkan kita kepada Allah, mendorong kita berbuat baik, dan menegur ketika kita salah.
Jangan menunggu kehilangan untuk mensyukuri. Jangan menunggu sakit untuk mensyukuri kesehatan.
Sebab, sebagaimana kendaraan membutuhkan BBM untuk berjalan, manusia pertolongan Allah untuk menjalani kehidupan.
Barakallahu fikum.
Gowa, 12 September 2026


Comments
Post a Comment