Ketika Mahasiswa Bertanya tentang Public Speaking
Kusnandar Putra
Seorang mahasiswi pernah bertanya kepada saya tentang public speaking,
"Dalam etika berinteraksi dengan masyarakat, mengapa cara seseorang dari berpenampilan, gestur tubuhnya, serta pilihan katanya tak sekadar urusan pribadi, tapi juga cerminan tanggung jawab moral kepada publik? Dan bagaimana ketiganya bersinergi dalam menciptakan keyakinan, rasa nyaman, dan citra profesional pembicara di mata audiens yang bermacam macam?"
Sinergi terjadi ketika ketiganya saling menguatkan. Jika penampilan rapi dibarengi gestur terbuka dan kata-kata yang santun, audiens tidak mengalami benturan persepsi (disonansi kognitif). Audiens dari latar belakang heterogen akan dengan mudah menerima pesan karena mereka merasa dihormati (nyaman), melihat keahlian pembicara (profesional), dan meyakini kebenaran informasinya (yakin).
Misalnya, seseorang berbicara tentang profesionalitas, tetapi dia bicara pakai baju kaus dan pakai sendal jepit.
Pesannya mungkin benar.
Tetapi penampilannya membuat orang sulit menerima.
Di sinilah pentingnya seorang pembicara memahami bahwa public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang.
Ada tanggung jawab di dalamnya.
Ketika kita berbicara di hadapan masyarakat, kita sedang berhadapan dengan manusia yang memiliki latar belakang berbeda-beda.
Ada yang berpendidikan tinggi.
Ada yang sederhana.
Ada yang tua.
Ada yang muda.
Ada yang memiliki pengalaman berbeda dengan kita.
Maka seorang pembicara perlu belajar menghormati keberagaman tersebut.
Penampilan yang pantas membuat orang merasa dihargai.
Gestur yang baik membuat orang merasa nyaman.
Kata-kata yang santun membuat orang merasa dihormati.
Dari sana tumbuh kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan tumbuh, pesan akan lebih mudah diterima.
Islam pun mengajarkan pentingnya menjaga cara berkomunikasi.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
(Surah Al-Baqarah: 83)
Perintah untuk berkata baik menunjukkan bahwa apa yang keluar dari diri kita bukan perkara sepele.
Bukan hanya apa yang kita sampaikan, tetapi juga bagaimana kita menyampaikannya.
Karena itu, seorang pembicara tidak cukup hanya menguasai materi.
Ia harus mempersiapkan dirinya.
Pelajari materinya.
Rapikan penampilannya.
Jaga gesturnya.
Pilih kata-katanya.
Perhatikan siapa audiensnya.
Dan yang tidak kalah penting, luruskan niatnya.
Sebab pembicara yang baik bukan hanya ingin terlihat pintar.
Ia ingin agar orang lain memahami.
Bukan sekadar ingin mendapatkan tepuk tangan.
Ia ingin memberikan manfaat.
Bukan hanya ingin terlihat profesional.
Ia ingin menjaga kepercayaan orang yang mendengarkannya.
Maka ketika berada di depan publik, berusahalah memberikan versi terbaik dari diri kita.
Bagus dalam penampilan, baik dalam sikap, santun dalam perkataan, dan benar dalam menyampaikan informasi.
Sebab masyarakat tidak hanya mendengar suara kita.
Mereka juga melihat sikap kita.
Dan terkadang, sebelum pesan kita dipercaya, diri kita terlebih dahulu yang dinilai.
Barokallohu fiikum.
Makassar, 23 September 2026


Comments
Post a Comment