Mengapa Kebiasaan Mencari Kesalahan Masih Membudaya?
Kusnandar Putra
Pernahkah Anda mengendarai mobil dengan kaca depan yang kotor?
Seketika itu juga, pemandangan indah di sepanjang jalan tertutup oleh noda, dan fokus Anda berubah dari menikmati perjalanan menjadi rasa waswas akan kendaraan, di depan.
Jika kaca yang buram saja bisa merusak perjalanan, apalagi prasangka buruk yang melapisi mata hati kita dalam bekerja.
Prasangka adalah musuh utama ruang kerja.
Ketika seseorang memandang lingkungannya dengan kacamata curiga, segala hal yang dilakukan orang lain akan selalu terlihat salah.
Fenomena baru suuzon dan tajassus (kebiasaan mencari-cari celah keburukan) telah merusak ekosistem kerja.
Mengapa kebiasaan mencari kesalahan masih membudaya?
Mari kita mencoba melihat dari kacamata yang lebih jernih dan hati yang lebih lapang.
Di dunia profesional, kita sering menemukan atasan yang bertindak sebagai detektif bagi karyawannya.
Setiap gerak-geriknya bukan untuk dibimbing, melainkan untuk ditandai kekurangannya.
Akibatnya, tim kehilangan kepercaan kepada atasan.
Begitu pula di dunia pendidikan, tempat yang seharusnya menjadi oase keteladanan. Kepala sekolah yang sibuk mencari celah kesalahan guru hanya akan memberikan suasana buruk.
Guru yang ditekankan secara emosional dan tidak lagi menghormati kepala sekolah.
Tak kalah merusak, hadirnya rekan sejawat yang berprasangka buruk.
Ketika rasa saling percaya terkikis antar sesama teman kantor, kolaborasi meluruh menjadi kompetisi yang saling menjatuhkan.
Ruang kerja pun berubah menjadi panggung drama yang menguras energi.
Dalam Islam, perilaku mencari-cari kesalahan orang lain merupakan perbuatan yang sangat merugikan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita dalam sebuah riwayat untuk menjauhi prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan, serta melarang kita untuk saling mencari-cari keburukan sesama.
Esensi kepemimpinan dan persahabatan sejati adalah memanusiakan manusia, bukan meruntuhkan martabatnya di depan umum.
Riset psikologi organisasi menunjukkan bahwa keamanan psikologis (rasa aman secara emosional di tempat kerja) berbanding lurus dengan tingkat produktivitas dan kreativitas.
Ketika seseorang merasa dihargai dan tidak memburu kesalahannya, ia dapat mencapai tingkat kinerja terbaiknya.
Yang perlu kita ingat, menyalakan kinerja secara tujuan tentu berbeda jauh dengan mencari-cari kesalahan sejak awal.
Tentu saja, evaluasi dan pengawasan tetap diperlukan agar standar kerja tetap terjaga.
Namun, mengawasi dengan niat memperbaiki sangat berbeda dengan mengintai dengan niat menjatuhkan.
Mari kita berikan ruang berbaik sangka untuk semua. Biarkan setiap individu bekerja tanpa dicari kesalahannya.
Mari kita bersihkan hati dari penyakit suuzon.
Barokallohu fiikum.
Gowa, 16 September 2026


Comments
Post a Comment