Orang Lain Juara, Kita Kapan?
Kusnandar Putra
Baru-baru ini, tim panjat tebing Indonesia sukses membawa pulang dua medali emas dari ajang World Climbing Series Guiyang 2026 di Tiongkok.
Kita tentu ikut gembira ketika melihat bendera Merah Putih berkibar di podium.
Tetapi ada satu hal yang menarik untuk kita renungkan.
Bisakah kita menjadi juara saat melihat orang lain menjadi juara?
Sebab tidak semua orang mampu ikut bahagia melihat keberhasilan orang lain.
Kadang ketika teman sukses, kita justru membandingkan diri.
Ketika orang lain naik jabatan, kita merasa tertinggal.
Ketika tetangga membeli sesuatu, kita mulai merasa tidak nyaman.
Padahal, keberhasilan orang lain seharusnya tidak selalu menjadi ancaman bagi kita.
Justru keberhasilan mereka bisa menjadi pelajaran.
Atlet yang menjadi juara tidak hanya menunjukkan hasil. Mereka menunjukkan proses. Ada latihan, disiplin, kegagalan, evaluasi, dan keberanian untuk kembali bertanding.
Dalam kehidupan pun begitu.
Kita sering ingin menjadi juara, tetapi jarang mau bertanding dalam kehidupan.
Ingin pintar, tetapi malas belajar.
Ingin berhasil, tetapi takut mencoba.
Ingin sukses, tetapi tidak tahan dengan kegagalan.
Ingin mendapatkan hasil seperti orang lain, tetapi tidak mau menjalani proses yang mereka jalani.
Maka, ketika melihat orang lain berhasil, jangan hanya berkata, “Hebat sekali dia.”
Cobalah bertanya:
“Apa yang bisa saya pelajari dari keberhasilannya?”
Itulah cara lain untuk menjadi juara.
Islam juga mengajarkan kita untuk tidak berhenti berusaha. Allah berfirman,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
(Surah Asy-Syarh: 7–8)
Menjadi juara bukan hanya ketika nama kita disebut di podium.
Menjadi juara juga ketika kita mampu melihat keberhasilan orang lain dengan hati yang lapang, mengambil pelajaran darinya, lalu kembali berusaha memperbaiki diri.
Karena kadang-kadang, kemenangan pertama bukan mengalahkan orang lain, tetapi mengalahkan rasa iri, malas, takut, dan mudah menyerah dalam diri sendiri.
Jangan hanya tepuk tangan ketika orang lain menjadi juara.
Belajarlah dari mereka, bertandinglah dalam kehidupan, dan berusahalah menjadi juara dalam versi terbaik diri kita sendiri.
Barokallohu fiikum.
Gowa, 25 September 2026


Mantap dan lanjutkan menulis setiap hari
ReplyDeleteMakasih Omjay. Thanks
Delete