Pak Prabowo: Orang lapar di Negara Seperti Kita, Saya Tidak Terima!
Kusnandar Putra
Ada satu kebutuhan dasar manusia yang sangat mendesak: makan.
Seseorang boleh memiliki cita-cita setinggi langit. Boleh berbicara tentang kemajuan bangsa, ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Tetapi ketika perut lapar, banyak hal menjadi sulit untuk dipikirkan.
Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kalimat yang menarik,
"Orang lapar itu tidak bisa menunggu lama.”
Beliau juga mengatakan bahwa sebagai negara yang masuk G20, ia tidak menerima jika masih ada rakyat Indonesia yang kelaparan.
Kalimat tersebut mengingatkan kita bahwa semakin besar amanah seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap kebutuhan orang lain.
Jika seseorang memberi makan satu orang yang lapar, itu adalah kebaikan.
Lalu bagaimana jika seseorang diberi amanah memimpin suatu daerah atau bahkan suatu negara, kemudian berusaha memastikan rakyatnya tidak mengalami kelaparan?
Tentu tanggung jawabnya jauh lebih besar.
Islam sendiri sangat memuliakan orang yang memberi makan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(Surah Al-Insan: 8)
Memberi makan bahkan salah menjadi satu bentuk amal yang sangat mulia dalam Islam.
Sebab orang lapar tidak memerlukan banyak teori.
Ia membutuhkan makanan.
Anak yang lapar membutuhkan makanan agar bisa belajar.
Keluarga yang kesulitan membutuhkan pangan agar bisa menjalani kehidupan.
Masyarakat membutuhkan ketahanan pangan agar tidak mudah goyah ketika menghadapi krisis.
Oleh karena itu, jangan pernah menganggap remeh sepiring makanan yang kami berikan kepada orang lain.
Bisa jadi bagi kita hanya makanan sederhana.
Tetapi bagi orang yang lapar, itu adalah pertolongan yang sangat berarti.
Dan bagi seorang pemimpin, memastikan rakyatnya dapat makan bukan sekadar persoalan program.
Itu adalah bagian dari amanah.
Sebab kepemimpinan bukan hanya tentang membangun gedung yang tinggi atau mengejar angka pertumbuhan.
Memberi makan adalah kemuliaan.
Dan semakin besar amanah seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan tidak ada orang yang kekurangan kelaparan.
Semoga kita semua, apa pun posisi dan kemampuan kita, menjadi orang yang kehadirannya membawa manfaat.
Karena terkadang, kebaikan yang paling berarti bukanlah sesuatu yang rumit.
Cukup memastikan orang di sekitar kita tidak tidur dalam keadaan lapar.
Barokallohu fiikum.
Gowa, 20 September 2026


Comments
Post a Comment