Sibuk Memikirkan Bisnis, Jabatan, Pekerjaan, dan Harta

 

Kusnandar Putra


Kemarin (26/9), saya khutbah Jumat di Masjid Baitul Maqdis, BTP, Makassar.


Dalam khutbah Jumat kali ini mengangkat tema tanda hari kiamat. 


Khutbah ini mengajak jamaah untuk tidak terlalu larut dalam kesibukan mengejar urusan dunia hingga melupakan kehidupan setelah kematian.


Khutbah mengajak jamaah untuk merenungi, “Bagaimana keadaan kita ketika berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala?”


Pertanyaan tersebut menjadi penting karena manusia sering kali begitu sibuk memikirkan bisnis, jabatan, pekerjaan, dan harta.


 Sementara itu, persiapan menghadapi kematian dan hari perhitungan terkadang justru terlupakan.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya


“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedangkan mereka dalam kelalaian dan berpaling.”

(QS. Al-Anbiya: 1)


Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Umur berkurang, kesempatan hidup semakin terbatas, dan kematian semakin dekat.


Dalam khutbah dijelaskan bahwa membicarakan tanda-tanda kiamat bukan sekadar untuk menambah wawasan ataupun menakut-nakuti jamaah.


Keimanan kepada hari akhir merupakan bagian dari keimanan seorang muslim.


Allah berfirman:


"Akan tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah dan hari akhir...”

(QS. Al-Baqarah: 177)


Pembahasan tentang kiamat seharusnya membuat seorang muslim semakin sadar terhadap tujuan hidup dan semakin serius mempersiapkan kehidupan setelah kematian.


Hadis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengingatkan:


“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”

(HR. At-Tirmidzi) 


Sejumlah tanda kiamat yang disebutkan dalam hadis turut menjadi bagian pembahasan.


Di antaranya adalah kembalinya sebagian manusia kepada kesyirikan, munculnya kekejian dan perkataan kotor. 


Tanda lainnya adalah waktu yang terasa semakin cepat. 


Jamaah kemudian diajak melihat kembali tujuan kehidupan.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


“Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”

(QS. Al-Ankabut: 64) 


Karena itu, mengingat kiamat bukan berarti berhenti menjalani kehidupan dunia. Sebaliknya, hal tersebut harus mendorong seorang muslim menjadi lebih bertanggung jawab dalam menjalani kehidupannya.


Barokallohu fiikum


Gowa, 26 September 2026 

Rekaman khutbah di sini >> https://youtu.be/Fr-RtMfthI4?si=SDOmPLjjMN7xBTZY



Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo