Sisa-sisa Tenaga yang Habis Diperas Dunia

 

Kusnandar Putra


Pernahkah Anda membayangkan seorang anak yang ketika ditanya tentang sosok ayahnya, ia hanya menjawab, 


"Ayah sibuk!"


Sungguh sebuah tamparan keras bagi kita para orang tua.


Nabi Muhammad saja, saat di Gua Hira, beliau tidak menetap di gua tersebut. 


Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah menerima wahyu, beliau menemui istrinya, Khadijah radhiyallahu 'anha, sambil berseru, Selimuti aku, selimuti aku. Beliau menjadikan rumah sebagai pelabuhan pertama untuk menenangkan jiwa.


 Jika Rasulullah memprioritaskan pulang ke rumah untuk berbagi beban emosional, lalu siapa kita yang merasa urusan dunia sedemikian pentingnya hingga mengabaikan kehadiran di tengah keluarga?


Fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah secara psikologis adalah ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak anak kita.


 Anak-anak yang kehilangan sentuhan emosional ayahnya cenderung kehilangan kompas kepercayaan diri. Mereka mungkin unggul secara akademis, namun rapuh dalam ketahanan mental. 


 Kehadiran ayah bukan sekadar raga yang duduk di sofa sambil bermain gawai, melainkan sebuah interaksi yang bermakna.


Ayah.. 

Saat menginjakkan kaki di rumah, lepaskan semua beban pekerjaan di depan pintu. Jangan bawa aura rapat atau tumpukan koreksi ujian ke hadapan anak. Fokuskan tiga menit pertama untuk memeluk, menatap mata, dan mendengarkan celotehan mereka. Ini adalah interaksi emosional yang sangat mahal.


Dunia tidak akan redup jika Anda menutup laptop sejenak untuk bermain bola atau mendengarkan cerita anak sebelum mereka terlelap. 


Masa kecil anak Anda tidak akan pernah terulang. Mereka tumbuh begitu cepat, dan jangan sampai saat Anda baru menyadari pentingnya pulang, mereka sudah memiliki dunianya sendiri dan tidak lagi membutuhkan Anda.


 Bekerja adalah ibadah, namun mendidik keluarga adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala kelak. 


Pulanglah dengan hati yang utuh, bukan dengan sisa-sisa tenaga yang sudah habis diperas dunia.


Barokallohu fiikum.


Makassar, 5 September 2026



Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Doakan Pak Prabowo