Ikan Kering Mairo 2 Ekor, Tapi Bisa Kenyang
Kusnandar Putra
Dulu, waktu masih SD, pernah suatu hari ibu pergi karena ada urusan. Saya tinggal sendiri di rumah. Tidak banyak makanan yang tersedia. Yang tersisa hanya ikan kering mairo, mungkin dua atau tiga ekor.
Bagi anak kecil, tentu itu bukan makanan yang istimewa. Tidak ada lauk yang beraneka ragam, tidak ada makanan yang bisa dipilih sesuai keinginan. Tapi saat itu, saya tetap bisa makan dengan lahap.
Ikan kering itu saya potong kecil-kecil. Satu potongan dimakan dengan nasi, kemudian potongan berikutnya. Begitu seterusnya. Sederhana, tapi ternyata bisa membuat kenyang.
Alhamdulillah.
Pengalaman kecil itu mengajarkan satu hal, terkadang yang dibutuhkan bukan makanan yang sempurna, tetapi strategi untuk menikmati apa yang ada.
Hari ini, bisa saja tidak mau makan kalau bukan makanan mewan. Ingin lauk yang ini, bukan mau yang itu.
Kalau tidak ada makanan kesukaan, merasa makanannya tidak enak. Padahal, bisa jadi di hadapan kita sudah ada rezeki yang cukup.
Islam mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dan pandai bersyukur. Allah berfirman, artinya,
“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan.”
(Surah Al-A'raf: 31)
Makanan sederhana pun bisa menjadi kenikmatan besar ketika hati dipenuhi rasa syukur.
Bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki keinginan untuk makan lebih baik. Tentu boleh.
Tetapi jangan sampai standar kesempurnaan membuat seseorang tidak mampu menikmati rezeki yang ada di hadapannya.
Terkadang nasi dengan ikan mairo kering terasa nikmat. Kadang telur dan sambal sudah cukup. Terkadang makanan sederhana justru menjadi kenangan yang tidak terlupakan.
Pintar-pintarlah mengatur keadaan. Jangan terlalu menuntut semuanya harus sempurna.
Mungkin dahulu ikan kering dua atau tiga ekor terasa sangat sederhana. Tetapi dari sana ada pelajaran yang mahal, kecukupan bukan hanya soal seberapa banyak yang dimiliki, tetapi juga seberapa pandai seseorang bersyukur dan mengelola apa yang ada.
Barokallohu fiikum
Gowa, 2 Oktober 2026


Comments
Post a Comment