Jangan Suka Marah, Guru!
Kusnandar Putra
Guru adalah sosok yang seharusnya membuat siswa merasa aman untuk belajar.
Di ruang kelas, siswa tidak hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga membutuhkan suasana yang nyaman, tenang, dan mendukung mereka untuk bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan.
Oleh karena itu, menjadi guru yang mudah marah merupakan persoalan yang perlu diperhatikan.
Apalagi jika kemarahan sampai disertai tindakan memukul atau kekerasan fisik.
Hal tersebut bukan sekedar persoalan emosi pada saat itu, tetapi dapat merusak suasana pendidikan.
Siswa yang sering dimarahi bisa menjadi takut kepada gurunya. Mereka mungkin memilih diam, enggan bertanya, takut melakukan kesalahan, bahkan kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat.
Padahal, proses belajar membutuhkan keberanian untuk bertanya dan mencoba.
Lebih berbahaya lagi jika kemarahan guru dianggap sebagai cara mendisiplinkan siswa.
Ketegasan memang diperlukan, tetapi ketegasan berbeda dengan kekerasan. Guru dapat memberikan aturan, teguran, konsekuensi, dan arahan tanpa harus menyakiti siswa.
Islam sendiri mengajarkan pengendalian amarah. Rasulullah bersabda,
لَا تَغْضَبْ
"Jangan marah."
(Riwayat Bukhari)
Tentu saja! Seorang guru berhadapan dengan banyak karakter siswa.
Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang lambat. Ada yang tenang, ada yang aktif. Ada yang sekali ditegur langsung berubah, ada pula yang membutuhkan pendekatan berulang kali.
Dalam kondisi seperti itu, guru membutuhkan kesabaran.
Bukan berarti guru tidak boleh marah sama sekali. Guru tetap perlu menunjukkan ketegasan ketika ada pelanggaran. Namun, kemarahan tidak bisa membuat guru kehilangan kendali hingga melakukan kekerasan. Itu rawan.
Guru adalah pendidik. Tugasnya bukan hanya membuat siswa patuh, tetapi juga membentuk karakter. Oleh karena itu, cara guru menangani kesalahan siswa pun sebenarnya sedang menjadi pelajaran bagi siswa.
Ketika guru menghadapi kesalahan dengan tenang, siswa belajar tentang pengendalian diri. Ketika guru menegur dengan bahasa yang baik, siswa belajar tentang adab. Ketika guru mampu memaafkan dan membimbing, siswa belajar tentang kasih sayang.
Sebaliknya, ketika guru terbiasa berteriak, menghina, atau memukul, siswa juga dapat menangkap pesan yang keliru, bahwa masalah dapat diselesaikan dengan kemarahan dan kekerasan.
Maka, guru tidak harus menjadi guru yang ditakuti. Jadilah guru yang dihormati.
Ketegasan tetap penting. Disiplin tetap diperlukan. Tetapi semuanya harus berada dalam koridor pendidikan dan kasih sayang.
Sebab ruang kelas seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, karakter, dan keberanian. Jangan sampai kemarahan seorang guru justru membuat siswa takut belajar.
Guru yang hebat bukan guru yang suaranya paling keras, tetapi guru yang mampu mengendalikan dirinya ketika menghadapi kesalahan siswanya.
Makassar, 8 Oktober 2026


Comments
Post a Comment