“Sudah Siap Dihisab?” (Khutbah Jumat Tadi)
Kusnandar Putra
Khutbah Pertama
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا. يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما، أما بعد.
Hadirin, jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah.
Kita hentikan sejenak pikiran kita tentang dunia. Kita hentikan sejenak pikiran kita tentang kesibukan, pekerjaan kita, menuju kepada kesibukan tentang perjalanan yang panjang kita menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sekali-sekali hendaklah kita merenung, apakah usia yang Allah titipkan kepada kita sudah menjadi bekal untuk berjumpa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala?
Pernahkah kita merenung tentang shalat kita, ibadah kita yang lainnya, apakah betul sudah ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala?
Oleh sebab itu di dalam Islam ada satu aktivitas penting yang hendaklah senantiasa kita lakukan, itulah muhasabah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hasyr di ayat yang ke-18,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Yang artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, wahai orang-orang yang ada nilai keimanan pada dirinya, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap dari kalian, setiap dari diri kita memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, untuk hari akhirat. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Mengetahui apa yang engkau kerjakan.
Dalam Tafsir As-Sa'di tentang ayat ini, kata beliau Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada manusia untuk kemudian menjaga perintah syariat maupun batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta'ala, untuk apa? Untuk memikirkan akibat baik dan juga akibat buruk dari apa yang mereka kerjakan.
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah, muhasabah adalah sebuah agenda besar. Bukan hanya pernikahan yang agenda besar, bukan hanya acara kelurahan dan sebagainya yang besar, tapi muhasabah adalah sebuah agenda besar dalam kehidupan seorang manusia.
Kenapa?
Karena dia bakal memeriksa apakah amalannya sudah cukup, apakah amalannya berdampak buruk terhadap kehidupannya di hari esok.
Jama'ah Juma'at rahimani wa rahimakumullah.
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
Kata beliau, hisablah diri kalian, periksa diri kalian, sebelum kalian dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Lihat jama'ah sekalian, orang di zaman dahulu seperti Umar bin Khattab, orang saleh, ternyata walaupun di tengah kesibukan beliau, beliau juga senantiasa mengingatkan kita untuk menghisab diri kita, memeriksa diri kita, sebelum kita yang diperiksa oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Setidaknya ada lima hisab, ada lima yang mesti kita senantiasa koreksi pada diri kita, yang mana hal ini tertera dalam hadits riwayat Tirmidzi nomor 2416,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam hadits beliau,
لَا تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ
Kata beliau, tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat di sisi Rabb-nya sampai mereka ditanya tentang lima hal, lima soal.
Apa soalnya?
Yang pertama kata beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam,
عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
Tentang umurnya untuk apa dia gunakan. Kemudian kata Rasulullah:
وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
Tentang masa mudanya, masa muda mereka, dalam hal apa dihabiskan.
Kemudian kata Rasulullah:
وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ
Dan hartanya, dari mana dia dapatkan dan juga untuk apa dia keluarkan. Kemudian:
وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
Dan juga kata beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang amalnya, apa saja yang dia sudah kerjakan dari apa yang dia ketahui.
Maka inilah lima soal yang hendaknya senantiasa kita koreksi pada diri kita, apakah hal tersebut sudah menjadi hal-hal yang baik ataukah justru sebaliknya.
Yang pertama kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
Tentang umurnya untuk apa dia habiskan.
Jama'ah sekalian, coba kita lihat satu bulan yang lalu, satu pekan yang lalu, apakah waktu yang kita diberikan oleh Allah sudah kita pakai dengan baik, sudah kita gunakan dengan semestinya untuk beribadah kepada Allah, atau justru sebaliknya kita pakai untuk maksiat, waktu yang kita gunakan kita pakai dalam memandang yang haram, mendengarkan yang ghibah, mengucapkan yang kasar?
Ingat, Allah Maha Mendengar, Allah Al-Bashir Maha Melihat, maka setiap dari gerak-gerik kita di setiap waktu, maka hal tersebut akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Umur kita jama'ah sekalian, itu adalah modal kita. Apa yang kita sudah dapatkan hari ini berupa rezeki umur 20 tahun, 30 tahun, dan seterusnya, itu adalah modal kita untuk menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ibaratnya semakin banyak modal kita, semakin banyak waktu kita kita gunakan mendekatkan diri kepada Allah, maka semakin baik juga kita derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Siapa yang punya usia yang panjang, dikaruniakan usia yang lama, yang panjang, hakikatnya semakin banyak bekal kebaikan yang kita sudah kumpulkan.
Jangan sebaliknya, na'udzubillah, semakin banyak usia yang Allah kasih kepada kita justru kita semakin sering bermaksiat kepada-Nya, tapi justru sebaliknya gunakan semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu agama, berbakti kepada orang tua, bersedekah, dan sebagainya, itulah usia yang produktif yang kita pakai untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan, wahai anak cucu Adam, wahai anak-anak Adam, engkaulah kumpulan dari hari-harimu, jika satu hari berlalu maka berlalulah juga sebagian dari dirimu.
Lihat jama'ah sekalian, hakikatnya satu hari yang sudah lewat, hari Kamis yang sudah lewat, hari Rabu yang sudah lewat, hakikatnya diri kita itulah juga yang sudah hilang.
Kumpulkan amal saleh untuk kemudian menjadi bekal kita berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jemaah sekalian, saking berharganya umur ini, saking berharganya usia kita, waktu kita, ulama di masa lampau sangat menghargai yang namanya waktu.
Disebutkan di dalam sejarah, ada yang bernama Daud bin Nashir. Daud bin Nashir ketika itu akan makan berupa roti, maka karena rotinya keras, maka dia celupkan lebih dahulu ke dalam air, lalu dia konsumsi, dia makan.
Maka seseorang bertanya,
"Wahai Daud, kenapa dicelupkan rotinya bukankah bisa dikunyah dengan tanpa harus mencelupkan ke air?"
Apa kata beliau? "Sesungguhnya kalau saya makan roti dengan mencelupkannya dulu di dalam air, maka selisih waktunya saya bisa membaca Al-Quran sekian ayat."
Perhatikan jemaah sekalian, gara-gara selisih waktu, beliau tidak mau sia-siakan hanya karena persoalan mengunyah, maka dia celupkan ke dalam air karena sisa waktunya bisa digunakan untuk membaca Al-Quran.
Betapa berharganya waktu.
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah.
Yang kedua, kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
وعن شبابه فيما أبلاه
Masa mudamu untuk apa engkau habiskan. Maka ini juga pertanyaan hisab. Ulama berbeda pendapat apa yang dimaksud dengan masa muda, ada yang mengatakan lima belas sampai tiga puluh tahun, ada yang mengatakan dua belas sampai empat puluh tahun.
Apapun itu jemaah sekalian, intinya masa sehat, masa produktif kita, itulah kita sebut sebagai masa muda.
Manfaatkanlah masa muda kita untuk berbuat baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan, ada tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pada hari kiamat, yang ketika itu tidak ada lagi naungan kecuali naungannya Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di saat matahari tinggal sejengkal, keringat manusia sudah sampai menenggelamkan manusianya sendiri, ada yang sampai betisnya, ada yang sampai lututnya, bahkan ada yang sampai pada lehernya.
Allah menaungi beberapa orang, di antaranya adalah ada seorang pemuda yang dinaungi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, kata Rasulullah
وشاب نشأ في عبادة الله
Seorang pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bayangkan jemaah sekalian, spesial bagi seorang pemuda yang sudah rajin shalat, rajin belajar agama, rajin membaca Al-Quran, tumbuh di atas ibadah, maka kelak dia mendapatkan posisi yang terhebat, posisi yang spesial di sisi Allah, dia mendapatkan naungan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kalau kita masih muda, manfaatkan dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Jangan habiskan waktu kita di masa muda dengan game online. Jangan habiskan waktu kita, na'udzubillah, dengan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Manfaatkan mumpung masih muda untuk kemudian mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Yang ketiga, yang akan ditanya oleh Allah tentang,
وماله من أين اكتسبه
Dari hartamu dari mana kamu dapatkan. Harta akan ditanyakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mana kata Allah Subhanahu wa Ta'ala,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
Wahai manusia, makanlah di bumi dengan apa yang halal lagi baik bagimu.
Kalau kita mendengarkan kasus banyak korupsi, banyak pencurian, banyak kezaliman, riba dan sebagainya, ini termasuk dari bentuk-bentuk mengambil harta yang haram, maka hendaklah hal tersebut juga sebagai renungan buat kita.
Jangan sampai pernah kita menipu orang lain, jangan sampai pernah kita mengambil harta orang lain dengan cara yang zalim, jangan sampai juga kita pernah melakukan praktik korupsi dan sebagainya.
Hisab diri kita, jangan hisab orang lain.
Hisab diri kita agar murni harta kita untuk kemudian kita berikan kepada keluarga.
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah, karena betapa penting yang namanya harta yang halal.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan dalam sebuah hadits,
لا يدخل الجنة غذي بحرام
Tidak masuk surga orang-orang yang tumbuh dari harta yang haram.
لا يدخل الجنة
Tidak bakal masuk surga orang-orang yang tumbuh dagingnya dari harta yang haram.
Dan juga Imam Bukhari rahimahullah yang kita tahu beliau sebagai periwayat hadits, hadits riwayat Bukhari, beliau meriwayatkan ribuan hadits.
Tahukah kita...
Apa resep bapaknya?
Apa tips dari bapaknya sampai lahir anak yang sholeh bermanfaat di tengah manusia?
Sang ayahanda pernah mengatakan, "saya tak pernah memasukkan harta yang syubhat kepada anak saya."
Bayangkan jamaah sekalian, harta yang syubhat tidak jelas mana yang halalnya, belum jelas juga haramnya, tapi itu saja tidak masuk ke lambung anaknya.
Beliau pastikan keluarganya bersih dari harta yang haram, maka lahirlah anak yang sholeh, lahirlah anak yang bermanfaat, kenapa?
Ada orang tua yang betul-betul memastikan hartanya harta yang halal.
Ini menjadi renungan buat kita kalau ada pertanyaan ustadz, kenapa anak saya begitu nakal?
Kenapa anak saya tidak pintar di sekolah?
Kenapa anak saya tidak membanggakan keluarga kita?
Jawabannya coba cross-check harta kita. Coba dilihat harta kita, apa yang kita bawa ke rumah. Siapa tahu, siapa tahu ada harta yang tidak benar yang kita masukkan di dalam rumah kita.نعوذ بالله.
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah dan juga kata Rasulullah tentang harta tersebut,
فَمِمَّا أَنْفَقَهُ
Untuk apa dia belanjakan?
Kalau tadi ditanyakan dari mana, maka kali ini akan ditanya adalah ke mana harta itu kita belanjakan?
Apakah di jalan Allah ataukah justru bermaksiat kepada Allah.
Oleh sebab itu para ulama mendefinisikan bahwa orang bersyukur nanti memenuhi tiga syarat.
Yang pertama kalau dia dapat harta, dapat rezeki, dia sandarkan ini dari Allah. Apa yang saya dapatkan berdasarkan kasih sayang Allah, bukan dari ikhtiarnya saja, bukan dari usahanya saja, semua dari karunia Allah. Ini syarat syukur yang pertama.
Yang kedua orang yang bersyukur ketika dapat gaji, bonus, dan sebagainya, dia mengucapkanالحمد لله.Segala puji bagi Allah. Ini syarat yang kedua.
Dan syarat yang ketiga banyak yang gagal. Setelah dia dapat rezeki, uang dan sebagainya, motor, mobil, dan sebagainya, dia pakai untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukan hal-hal yang haram. Dapat uang, dia kasih nafkah untuk keluarganya, bukan membeli yang haram, menempatkan pada tempat yang haram. Itulah tiga syarat syukur.
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah dan yang terakhir dari hisab yang harus kita lakukan adalah
وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
Dari ilmu yang kita ketahui apa saja yang kita sudah amalkan?
Makanya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang kita amalkan. Yang kita tahu dan juga kita aplikasikan, amalkan dalam kehidupan kita.
Shalat jangan pernah kita tinggalkan.
Betapa banyak orang yang sudah tahu hukum shalat tapi mereka tidak shalat.
Apa buktinya jamaah sekalian?
Di ayat disebutkan ketika penduduk langit bertanya kepada penduduk neraka Saqar,
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ
Apa yang menyebabkan kalian berada di neraka Saqar?
Apa jawaban penduduk neraka Saqar,
لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
Kami dahulu, kami waktu masih hidup di dunia adalah orang yang tidak shalat. Meninggalkan shalat.
Maka jamaah sekalian, ilmu yang kita sudah dapatkan pastikan kita amalkan tentang shalat kita, sedekah kita, dan sebagainya hendaknya bukan hanya sebagai wawasan tapi juga sebagai bentuk ikhtiar kita amalan sholeh kita sehingga dengannya kita bisa berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kondisi yang baik.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
Khutbah Kedua,
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Jamaah Jumat yang berbahagia...
Ini merupakan hari yang mulia yaitu hari Jumat, maka hendaklah kita memperbanyak selawat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.


Comments
Post a Comment