Sibuk Mencari Uang, Kehilangan Waktu Membersamai Anak

 

Kusnandar Putra


Dalam sebuah video di Tiktok, ada seorang Bapak ditanya, 


"Apa penyesalan terbesar Bapak dalam hidup?"

Sang Bapak menjawab, 

"Penyesalan terbesar saya itu dulu terlalu sibuk bekerja, dan gak ada waktu buat anak. Dulu saya itu mikirnya, selama saya bisa ngasih makan mereka, berarti saya sudah jadi bapak yang baik.

Sekarang anak-anak saya sudah pada besar. Mereka sudah sibuk masing-masing, dan saya baru sadar, ternyata saya nyia-nyiain banyak momen pas mereka masih kecil. Kalau bisa ngulang waktu, saya pengen lebih banyak nemenin mereka. Bukan berarti saya nyesel sudah bekerja keras, tapi saya nyesel karena terlalu sibuk cari uang."


Jawaban Bapak ini menjadi pengingat penting bagi setiap orang tua.


 Terkadang, seseorang begitu bersemangat membangun masa depan anak, tetapi tanpa sadar justru kehilangan kesempatan untuk hadir dalam masa kecil mereka.


Tidak ada yang salah dengan bekerja keras.


 Seorang ayah memiliki tanggung jawab untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memastikan anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang layak. 


Dalam Islam, mencari nafkah untuk keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab yang mulia.


Namun, tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada urusan materi. 


Anak juga membutuhkan perhatian, kasih sayang, pendidikan, teladan, dan dakwah. 


Anak tidak hanya membutuhkan uang untuk membeli makanan, pakaian, mainan, atau membayar biaya sekolah.


 Mereka juga membutuhkan seseorang yang mengajarkan tauhid, menemani proses belajarnya, mengajaknya berbicara, serta membimbingnya ketika melakukan kesalahan.


Jangan sampai orang tua begitu sibuk memikirkan biaya sekolah anak, tetapi lupa mengajarkan nilai-nilai kehidupan.


Lebih menyedihkan lagi, jangan sampai orang tua mampu membiayai berbagai kebutuhan anak, tetapi tidak memiliki waktu untuk mengajarkan mereka membaca Al-Qur’an dan tauhid. 


Allah azza wajalla telah memberikan contoh pendidikan keluarga melalui nasihat Luqman kepada anaknya. 


Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, 


يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ


“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Surah Luqman: 13)


Orang tua harus ada waktu untuk mengenalkan Allah kepada anak, mengajarkan mereka berdoa, membiasakan salat, membimbing mereka membaca Al-Qur’an, serta menanamkan akhlak yang baik. 


Semua itu tidak cukup hanya diserahkan kepada guru di sekolah atau ustaz di tempat mengaji. 


Orang tua tetap memiliki peran utama dalam pendidikan anaknya.


Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.


 Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan seorang perempuan juga bertanggung jawab atas rumah tangganya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)


Anak-anak tidak akan selamanya kecil.


Hari ini, mungkin anak masih meminta ditemani belajar, dibacakan doa sebelum tidur, diajarkan mengaji, atau sekadar bermain bersama.


 Namun, beberapa tahun kemudian, mereka akan tumbuh dewasa, memiliki kesibukan sendiri, dan perlahan membangun kehidupannya masing-masing.


Pada saat itu, uang mungkin masih bisa dicari. Rumah bisa diperbaiki, kendaraan bisa diganti, dan kebutuhan materi lainnya bisa diusahakan. Akan tetapi, masa kecil anak yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.


Karena itu, jangan menunggu anak dewasa untuk menyadari pentingnya kebersamaan.


 Jangan menunggu anak menjauh untuk mulai menyesali kurangnya perhatian. 


Mulailah dari hal sederhana. Pastikan setiap hari berbicara dengan anak. 


Dampingi mereka belajar. Ajarkan doa-doa harian. Baca Al-Qur’an bersama. Salatlah berjamaah. 


Barokallohu fiikum


Makassar, 15 Oktober 2026




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Gelar Tanpa Dampak

Belajar Makin Seru, 300+ Guru Sulsel “Upgrade Ilmu”

Doakan Pak Prabowo

Cara Mendampingi Anak SMA Agar Sukses di Masa Depan yang Jarang Diketahui

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

“Sudah Siap Dihisab?” (Khutbah Jumat Tadi)

Kekerasan Istri kepada Suami (KDRT Istri)

Terjebak Info MBG dan Kopdes