Posts

Menghapus Prasangka Buruk pada MBG

Image
  Kusnandar Putra Pernahkah Anda sedang asyik bermain HP, tiba-tiba muncul peringatan Baterai Lemah 10%? Seketika itu juga, layar meredup dan fokus Anda beralih dari keasyikan utama HP ke pencarian kabel charger.  Jika gawai saja butuh daya untuk berfungsi optimal, apalagi otak anak-anak di sekolah. Rasa lapar adalah musuh utama konsentrasi. Anak yang berangkat sekolah dengan perut kosong atau asupan nutrisi seadanya tidak akan bisa menyerap pelajaran dengan maksimal. Program Makan Bergizi Gratis hadir sebagai pengisi daya yang sangat dibutuhkan. Namun, di tengah upaya baik ini, sering kali muncul suara sumbang atau prasangka buruk.  Mengapa kita tidak mencoba untuk berhusnudzon?  Mari kita melihat dari kacamata yang lebih jernih dan hati yang lebih lapang. Dalam amalan Islam, memberi makan adalah salah satu amalan yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta'ala.  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah riwayat Imam Bukhari bahwa sebaik-bai...

Sarjana Agama yang Menimbun Cahayanya Sendiri

Image
  Kusnandar Putra Pernahkah Anda membayangkan seorang petugas pemadam kebakaran yang sangat ahli, namun ia hanya duduk diam saat melihat rumah tetangganya hangus dilalap api?  Alih-alih menyemprotkan air, ia justru sibuk mengingat medalinya di rumah, menghitung tabungan untuk membeli perabotan baru.  Menyebalkan, bukan?  Sayangnya, pemandangan serupa kini mulai jamak kita temui di dunia pendidikan Islam. Fenomena ini adalah tentang mereka yang bertahun-tahun menuntut ilmu di bangku kuliah jurusan agama, pesantren, bahkan di luar negeri.  Mereka bisa membaca kitab gundul dengan lancar, paham fiqih ibadah, dan mampu menjelaskan sejarah Islam. Namun, ketika kembali ke masyarakat, mereka menghilang.  Mereka tidak mengajar di masjid, tidak membimbing anak-anak tentang tauhid, dan tidak hadir saat umat kebingungan mencari arah.  Mereka lebih memilih tenggelam dalam hiruk-pikuk urusan duniawi semata. Inilah, sebuah kegagalan yang nyata. Mengapa ini disebut ke...

Gelar Tanpa Dampak

Image
  Kusnandar Putra Pernahkan Anda menemukan teman yang punya gelar tapi pekerjaannya tidak sesuai?  Banyak?  Rasanya sayang sekali, bukan?  Mereka menghabiskan waktu empat hingga lima tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2, 3 tahun untuk S3. Dia menguras tabungan orang tua, dan begadang demi skripsi, namun akhirnya gelar tersebut tidak berdampak.  Mereka bekerja di bidang yang jauh dari jurusan kuliahnya, atau bahkan ilmu yang dipelajari menguap begitu saja.  Muncul pertanyaan, "Untuk apa capek-capek kuliah kalau ujung-ujungnya tidak terpakai?" Jauh sebelum teori-teori pendidikan modern itu lahir, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan fondasi yang luar biasa tentang penempatan potensi manusia sesuai porsinya.  Ingatkah kita bagaimana beliau menugaskan Zaid bin Thabit radhiyallahu 'anhu untuk mempelajari bahasa asing dan menulis wahyu karena kecerdasannya yang spesifik?  Atau bagaimana beliau memberikan komando perang kepada Khalid bin...

Terjebak Notifikasi

Image
  K usnandar Putra Pernahkah kita memperhatikan bagaimana jari-jari kita begitu lincah melakukan scrolling di layar ponsel selama berjam-jam?  Kita sanggup menatap layar yang bercahaya itu demi melihat kehidupan orang lain, mengikuti tren terbaru, atau sekadar membalas pesan di grup yang tak kunjung usai.  Namun, sadarkah kita bahwa di sudut rumah, ada mata kecil yang sedang melakukan scrolling pada wajah kita, mencari perhatian, dan merindukan sentuhan?  Di era digital ini, kita sering terjebak dalam notifikasi yang tak ada habisnya, hingga kehadiran fisik kita di rumah hanyalah sekadar raga tanpa jiwa.  Kita sibuk bekerja atas nama masa depan anak, namun kita justru kehilangan masa kini mereka.  Tahu tidak, kapan terakhir kali anak-anak kita tertawa lepas hingga berkeringat karena bermain bersama kita?  Ataukah selama ini mereka lebih sering melihat punggung kita yang sedang asyik dengan gawai? Bagaimanakah teladan sang pendidik sejati, Rasulullah sh...

Doakan Pak Prabowo

Image
  Kusnandar Putra Bayangkan Anda sedang menggulir layar ponsel  di pagi hari.  Hanya butuh waktu kurang dari tiga detik bagi jempol kita untuk menekan tombol bagikan pada sebuah narasi kebencian.  Algoritma media sosial seringkali memberi panggung pada kegaduhan, membuat kita membenci dan mencaci adalah bentuk ekspresi kebebasan.  Apa mindset ulama terdahulu terhadap pemimpin?  Mari kita menengok sejenak kisah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau adalah ulama yang pernah mengalami ujian luar biasa, dipenjara dan disiksa oleh penguasa pada masanya karena mempertahankan prinsip akidah.  Namun, apakah beliau membalasnya dengan ajakan untuk membenci atau memprovokasi massa guna meruntuhkan wibawa pemimpin? Sama sekali tidak! Imam Ahmad bin Hanbal justru pernah berkata dengan kalimat yang sangat masyhur,  "Seandainya aku memiliki satu doa yang mustajab (pasti dikabulkan), niscaya doa itu akan aku peruntukkan bagi penguasa." Mungkin kita bertanya,...

Kebaikan Satu Menit, Mengubah Hidup

Image
  Kusnandar Putra Sering kali kita berpikir bahwa untuk berdampak bagi orang lain, kita butuh waktu luang yang banyak, harta yang melimpah, atau kedudukan yang tinggi.  Padahal, kebaikan itu sering kali hanya butuh waktu satu menit. Ya, cuma enam puluh detik untuk mengubah hari seseorang, atau bahkan mengubah arah hidupnya. Mari kita ingat kisah Dlimad al Azdi radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah seorang ahli pengobatan dari kabilah Azd Shanu’ah yang datang ke Makkah.  Saat itu, orang-orang Quraisy menyebarkan berita bohong bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang gila.  Dlimad yang merasa ahli mengobati penyakit kejiwaan pun berniat menyembuhkan beliau. Namun, apa yang terjadi saat mereka bertemu?  Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membalas tuduhan itu dengan kemarahan. Beliau hanya mengucapkan pembukaan khutbah yang sangat masyhur, Innal hamda lillahi, nahmaduhu wa nasta’inuhu... dan seterusnya. Hanya mendengar kalimat pembuk...

Bicara di Ruang Masyarakat tanpa Pembodohan

Image
  Kusnandar Putra Sering kali kita berada dalam dialog di masyarakat, yang mana orang tersebut berbicara tanpa ilmu.  Bahas agama tidak ada dalil. Bahas politik, tidak paham. Bahas fenomena, asal bunyi.  Dalam dunia akademik, perasaan bukanlah dalil, dan asumsi bukanlah data. Kita sering terjebak dalam jebakan kognitif yang menganggap suara keras adalah kebenaran, padahal tanpa pondasi ilmu, narasi tersebut hanyalah kebisingan yang menyesatkan. Fenomena ini mengingatkan kita pada peringatan keras yang Allah subhanahu wa ta'ala sampaikan dalam Al-Quran Surah Al-Isra ayat 36. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya, Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. Ayat ini bukan sekadar nasehat, melainkan sebuah standar baku dialog. Bayangkan jika para perawi hadis dahulu bekerja tanpa data dan verifikasi yang ketat. Mungkin kita tidak...